Agen Di Gregorio Murka: Juventus Habiskan €130 Juta untuk Tiga Striker Gagal
Baca dalam 60 detik
- Agen kiper Juventus, Michele Di Gregorio, melontarkan kritik pedas kepada manajemen klub yang dianggap boros dan tidak adil.
- Ia menyoroti pemborosan €130 juta untuk tiga striker yang dinilai gagal, sementara Di Gregorio dijadikan kambing hitam.
- Di Gregorio dikabarkan masuk dalam daftar incaran beberapa klub Eropa, dan agennya menuntut rasa hormat atas kontribusinya.

Ketegangan di internal Juventus kembali mencuat setelah agen kiper Michele Di Gregorio, Carlo Alberto Belloni, melancarkan serangan verbal kepada manajemen klub. Dalam unggahan di Instagram Stories, Belloni menuntut rasa hormat dan mengecam kebijakan transfer yang dinilai kacau balau. Ia secara khusus menyoroti pembelian tiga striker seharga €130 juta yang disebutnya 'mengerikan', sementara sang kiper dijadikan kambing hitam atas kegagalan tim.
Belloni tidak hanya menyoroti pemborosan dana, tetapi juga ketidakstabilan manajemen. "Lihatlah 20 pemain baru dalam dua musim, tiga pelatih dalam dua musim, tiga jajaran direksi dalam dua musim. Angka-angka inilah yang membuat perbedaan nyata," tulisnya. Ia menuding direktur asal Prancis, Damien Comolli—yang baru saja dipecat—sebagai dalang di balik kekacauan ini. Comolli telah digantikan oleh Giovanni Carnevali pada bulan lalu.
Menariknya, Belloni membandingkan statistik Di Gregorio dengan kiper lain. Menurut data Sofascore, Di Gregorio berada di peringkat keempat, unggul atas Vanja Milinkovic-Savic dan Yann Sommer yang masing-masing menjadi kiper utama tim peringkat kedua dan pertama Serie A musim lalu. "Gol yang kebobolan Juventus 34, Inter 35. Gol yang dicetak Juventus 61, Inter 82. Sisanya hanya omong kosong," tegas Belloni, menyindir bahwa lini belakang Juventus sebenarnya tidak lebih buruk dari Inter, namun lini depan yang mandul menjadi masalah utama.
Di Gregorio, yang dibeli dari Monza pada musim panas 2024 sebagai kiper terbaik Serie A saat berusia 26 tahun, sempat kehilangan tempat utama karena performa menurun. Ia beberapa kali digantikan Mattia Perin. Namun, Belloni menilai bahwa kesalahan justru dibebankan kepada kiper yang dibeli oleh direktur olahraga sebelumnya, Cristiano Giuntoli, bukan kepada para striker mahal yang gagal memenuhi ekspektasi.
Bagi pengamat sepak bola Italia, pernyataan Belloni mencerminkan frustrasi yang lebih luas di kalangan pemain dan agen terhadap arah baru Juventus di bawah kepemimpinan Comolli. Meski Comolli telah pergi, warisan kebijakan transfernya masih membebani klub. Di Gregorio sendiri dijadwalkan bergabung dengan kamp pelatihan pramusim, namun masa depannya belum pasti. "Dia masuk dalam daftar pendek beberapa klub Eropa, jadi kami tidak terburu-buru. Kami menuntut rasa hormat bagi mereka yang selalu tampil, bahkan ketika lebih mudah duduk di bangku cadangan," pungkas Belloni.
Implikasinya bagi sepak bola Indonesia? Kasus ini mengingatkan bahwa manajemen klub yang tidak stabil—sering berganti pelatih, pemain, dan direksi—berpotensi menimbulkan konflik internal dan menghambat prestasi. Klub-klub Liga Indonesia dapat belajar dari Juventus bahwa investasi besar di lini depan tidak akan berarti tanpa keseimbangan dan kesabaran dalam membangun tim. Pertanyaan besarnya: akankah Juventus mempertahankan Di Gregorio atau melepasnya di bursa transfer musim panas ini?



