Uji Coba Terakhir: Roma Andalkan Trio Dybala-Malen-Soulé Lawan Dortmund, Gasperini Masih Cari Formasi Ideal
Baca dalam 60 detik
- Roma menurunkan lini serang terbaiknya saat menghadapi Dortmund dalam laga pamungkas pramusim, dengan harapan memperbaiki performa yang belum konsisten.
- Pelatih Gasperini masih bereksperimen, termasuk memberi kepercayaan kepada pemain muda Lulli di posisi wing-back kanan yang selama ini menjadi titik lemah.
- Dortmund juga memanfaatkan laga ini untuk mematangkan strategi, dengan menurunkan pemain keturunan Brasil-Italia, Samuele Inacio, yang berpotensi dipanggil tim Samba.

DORTMUND — AS Roma memasuki laga pamungkas pramusim melawan Borussia Dortmund dengan skema serangan penuh: Paulo Dybala, Donyell Malen, dan Matias Soulé diturunkan sejak menit awal di Signal Iduna Park, Jumat (8/8) sore WIB. Pertandingan ini menjadi ujian terakhir sebelum Serie A bergulir akhir pekan depan, sekaligus momentum bagi pelatih Gian Piero Gasperini untuk membenahi ritme tim yang sepanjang musim panas kerap tampil melempem.
Kekalahan telak dari Brighton dan Cardiff City dalam tur pramusim menjadi alarm bagi Roma. Catatan buruk itu membuat laga kontra Dortmund bukan sekadar ajang pemanasan, melainkan barometer kesiapan tim menghadapi kompetisi resmi. Tekanan publik ibu kota Italia pun mulai mengarah pada Gasperini, yang dituntut segera menemukan formula terbaik sebelum musim dimulai.
Di sisi lain, Dortmund juga tengah bersiap menyambut Bundesliga. Pelatih mereka mencoba memadukan pengalaman dan darah muda, salah satunya dengan memberi tempat kepada Samuele Inacio, striker 18 tahun yang baru bergabung dari Atalanta pada 2024. Menariknya, pemain berpaspor ganda Brasil-Italia ini santer dikabarkan akan dipanggil tim nasional Brasil, menyusul performa impresifnya di level junior.
Keputusan Gasperini menurunkan Emanuele Lulli, produk akademi yang baru berusia 18 tahun, sebagai wing-back kanan menjadi kejutan tersendiri. Posisi tersebut memang menjadi perhatian utama manajemen Roma yang masih berburu pemain baru, terutama setelah Wesley mengalami cedera. Langkah ini menunjukkan kepercayaan Gasperini pada pemain muda, sekaligus sinyal bahwa ia tak ragu melakukan eksperimen di tengah keterbatasan skuad.
Di lini tengah, Roma kembali diperkuat Manu Koné yang baru pulih dari petualangan panjang bersama Timnas Prancis di Piala Dunia. Sementara itu, Nahuel Molina yang baru direkrut dari Atletico Madrid masih menunggu kesempatan debut. Kehadiran dua pemain ini diharapkan bisa menambah daya gedor dan stabilitas tim, meski chemistry antarpemain masih perlu diuji dalam situasi pertandingan sesungguhnya.
Bagi pengamat sepak bola Italia, laga ini juga menjadi ajang pembuktian bagi pemain-pemain muda Italia yang merumput di luar negeri. Selain Inacio, Dortmund juga menurunkan Filippo Mane (21 tahun) dan Luca Reggiani sebagai cadangan. Fenomena ini menarik dicermati, mengingat Timnas Italia sedang dalam fase regenerasi dan membutuhkan stok pemain berkualitas dari liga-liga top Eropa.
Dari perspektif Indonesia, laga ini mungkin terasa jauh, tetapi ada pelajaran berharga tentang bagaimana klub-klub Eropa serius memanfaatkan momen pramusim untuk menguji kedalaman skuad dan memberi menit bermain kepada pemain muda. Pola seperti ini bisa menjadi referensi bagi klub-klub Liga 1 yang kerap kali menganggap laga uji coba hanya sebagai formalitas, padahal di sanalah fondasi taktik dan mental tim seharusnya dibangun.
Pertanyaan besarnya, akankah eksperimen Gasperini dengan pemain muda seperti Lulli membuahkan hasil positif saat musim resmi dimulai? Atau justru menjadi bumerang karena minimnya pengalaman di level tertinggi? Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa pekan ke depan, ketika Roma dan Dortmund sama-sama mengarungi kompetisi domestik masing-masing.



