Victor Willis, Vokalis Village People yang Populerkan YMCA, Meninggal Dunia
Baca dalam 60 detik
- Victor Willis, pentolan grup disko Village People yang menulis lagu ikonik YMCA, meninggal pada 30 Juni 2026 di usia 74 tahun akibat penyakit agresif.
- YMCA yang awalnya menjadi anthem komunitas LGBTQ kini kerap digunakan dalam kampanye politik sayap kanan Amerika, termasuk oleh mantan Presiden Donald Trump.
- Kepergian Willis menandai berakhirnya era keemasan disko, namun warisan musiknya tetap relevan dalam perdebatan budaya dan politik global.

Victor Willis, vokalis utama grup disko legendaris Village People yang menulis dan mempopulerkan lagu YMCA, meninggal dunia pada Selasa, 30 Juni 2026, di usia 74 tahun. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh istrinya melalui unggahan di akun Facebook resmi Willis, yang menyebut sang musisi tutup usia akibat penyakit agresif yang berlangsung singkat.
Lahir di Texas, Willis adalah salah satu pendiri Village People pada akhir 1970-an. Bersama grupnya, ia menulis sejumlah lagu yang menjadi anthem dansa global, seperti YMCA, In The Navy, dan Macho Man. Dengan kostum flamboyan dan koreografi khas, Village People menyasar penonton gay melalui karakter-karakter hiper-maskulin seperti tukang bangunan, biker, koboi, dan tentara. Grup ini menjadi fenomena budaya pop yang melampaui batas komunitas aslinya.
YMCA, yang liriknya mengajak "pemuda" untuk bergabung dengan Young Men's Christian Association di New York, awalnya dirayakan sebagai lagu kebebasan dan kebanggaan komunitas LGBTQ. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, lagu ini justru diadopsi oleh kalangan konservatif Amerika, terutama oleh mantan Presiden Donald Trump yang kerap memutarnya dalam rapat-rapat politiknya. Trump bahkan menciptakan tarian khas untuk lagu tersebut—gerakan pinggul kaku dan kepalan tangan setinggi pinggang—yang menjadi ciri khas kampanyenya.
Kontroversi ini semakin memuncak ketika Village People tampil membawakan YMCA dalam rapat umum Trump pada Januari 2025, menjelang pelantikan keduanya. Saat itu, Willis menyatakan, "Mari kita beri Presiden Trump kesempatan, terlepas dari apa pun yang Anda pikirkan tentangnya di masa lalu. Jika dia melakukan hal-hal yang membatasi hak-hak LGBTQ, Village People akan menjadi yang pertama angkat bicara." Pernyataan ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar lama yang merasa lagu mereka telah direbut oleh kekuatan politik yang berseberangan dengan nilai-nilai inklusivitas.
Willis meninggalkan Village People pada 1980, namun kembali bergabung pada 2017. Ia juga pernah berjuang melawan kecanduan narkoba dan menerima kesepakatan pembelaan atas kepemilikan kokain pada 2006. Meski demikian, kontribusinya pada industri musik tidak terbantahkan.
Bagi pembaca di Indonesia, kepergian Victor Willis mengingatkan pada era keemasan disko yang sempat populer di tanah air pada akhir 1970-an hingga 1980-an. Lagu-lagu Village People sering diputar di diskotik dan acara televisi, menjadi bagian dari memori kolektif generasi baby boomer dan Gen X. Namun, kontroversi politik seputar YMCA juga relevan dengan fenomena global di mana lagu-lagu populer kerap dijadikan alat kampanye, sesuatu yang juga terjadi di Indonesia dengan penggunaan lagu-lagu daerah atau nasional dalam politik praktis.
Warisan Willis tetap hidup melalui melodi yang tak lekang waktu. Namun, pertanyaan tentang siapa yang berhak mengklaim lagu-lagu tersebut—apakah komunitas yang melahirkannya atau kekuatan politik yang mengadopsinya—akan terus bergema. Di tengah polarisasi yang semakin tajam, YMCA mungkin akan terus menjadi medan pertempuran simbolis antara identitas dan kekuasaan.



