Konser Batal gegara Suara Merdu Dihujat: Xie Na dan Kemarahan Publik China
Baca dalam 60 detik
- Xie Na, presenter papan atas China, membatalkan konser Beijing setelah suaranya diejek dan dikritik media negara.
- Kritik terhadap Xie mencerminkan kemarahan publik atas kesenjangan pendapatan dan selebritas yang dianggap 'menguangkan' popularitas.
- Kasus ini memicu perdebatan tentang batas kritik publik terhadap selebritas di China, termasuk soal selera versus kekuasaan administratif.

Xie Na, presenter televisi paling dikenal di China, terpaksa membatalkan rencana tur konser nasionalnya setelah suara nyanyiannya menjadi sasaran ejekan publik dan teguran media negara. Konser di Beijing yang dijadwalkan akhir bulan ini batal hanya dalam hitungan hari setelah gelombang kritik meluas di dunia maya.
Xie, yang selama dua dekade menjadi andalan acara varietas Happy Camp, memang lama bercita-cita menjadi penyanyi. Pada April lalu, ia mengumumkan konser solo perdananya di Chengdu. Tiket yang dijual langsung ludes dalam delapan menit, membuat Xie terkejut sekaligus percaya diri. Dua konser di Chengdu pada Mei berlangsung meriah, dihadiri para sahabat selebritasnya. Dalam sebuah siaran langsung, Xie bahkan menyebut dirinya bisa menjadi "ratu pop".
Namun euforia itu segera berubah. Setelah mengumumkan tur nasional dengan tiket seharga 380โ1.180 yuan (sekitar Rp 850 ribuโ2,6 juta), opini publik mulai berbalik. Banyak yang meragukan kapasitas vokalnya, menuding ia hanya mengandalkan popularitas teman-temannya, dan mencurigai tur itu sebagai cara mudah meraup uang. Sebuah tangkapan layar yang viral memperlihatkan pesan kepada suami Xie, seorang penyanyi profesional, yang memintanya "mengendalikan istrimu".
Kritik di media sosial mungkin masih bisa diabaikan, tetapi tidak ketika media negara ikut angkat bicara. Sebuah artikel dari departemen komite partai provinsi Zhejiang pada Juni lalu menulis bahwa tur Xie menimbulkan kecurigaan ia "mengejar keuntungan" ketimbang mewujudkan mimpi. Artikel itu mengingatkan bahwa "popularitas superfisial tidak hanya gagal menghasilkan keuntungan berkelanjutan, tetapi juga menyebabkan hilangnya kehalusan budaya". Beberapa hari kemudian, People's Daily menerbitkan komentar tentang "selebritas populer yang pekerjaan utamanya adalah pembawa acara dan tidak memiliki karya musik terkenal". "Keunggulan dan kecemerlangan biasanya membawa pengakuan luas, tetapi mereka yang mendapat pengakuan tanpa kemampuan nyata pada akhirnya akan mendapat masalah," tulisnya.
Tekanan publik akhirnya memaksa penyelenggara konser membatalkan pertunjukan Beijing dan mengembalikan uang tiket. Belum jelas apakah pembatalan itu karena arahan pemerintah. Xie sendiri belum berkomentar. Dr. Jian Xu, profesor asosiasi di Deakin University Australia yang meneliti internet dan budaya pop China, menilai langkah itu sebagai "kalkulasi manajemen risiko" oleh penyelenggara dan tim manajemen artis.
Menurut Xu, reaksi keras terhadap Xie "mencerminkan kebencian publik yang meningkat terhadap selebritas yang dianggap 'menguangkan popularitas online'". Ia menambahkan bahwa konser Xie juga menjadi "saluran emosional untuk frustrasi yang lebih luas atas ketimpangan pendapatan dan kekayaan di China kontemporer". Sejak pandemi, jutaan pemuda China menghadapi tekanan finansial, tingkat pengangguran tinggi, dan ekonomi yang melambat. Sementara itu, selebritas tampak memperoleh pendapatan sangat besar dengan "relatif mudah".
Kasus ini bukan yang pertama. Bulan lalu, penyanyi terkenal Han Hong dituduh memanipulasi emosi penonton saat mempromosikan film mata-mata dengan imbauan "beri saya muka". Tahun lalu, seorang aktris pemula namanya dihapus dari kredit drama setelah dituduh menggunakan koneksi ibunya untuk masuk sekolah seni ternama. Sebulan sebelumnya, aktris lain menjadi sasaran spekulasi karena memakai anting-anting mahal.
Zichen Wang, pendiri buletin Pekingnology, mengatakan kritik terhadap selebritas bisa menjadi "salah satu bentuk kritik yang 'paling aman' di China". "Ini memungkinkan orang mengekspresikan frustrasi tentang kompetensi, hak istimewa, uang, dan keadilan sosial tanpa menyentuh topik sensitif secara langsung," ujarnya. Namun Wang juga mempertanyakan apakah kritik semacam itu harus berujung pada kekuasaan administratif. "Selera tidak boleh dengan mudah menjadi kekuasaan administratif, atau alasan untuk itu. Ketidaksukaan tidak boleh menjadi kekuatan pembatalan," katanya.
Beberapa warganet China juga melontarkan pertanyaan serupa. "Jika Anda tidak suka, jangan pergi atau ikuti. Mengapa harus mengatur dompet orang lain?" tulis seorang pengguna Weibo. Yang lain menambahkan, "Jika nyanyiannya buruk dan ia mengadakan konser, ia harus menghadapi konsekuensi pasar, bukan penghinaan pribadi." Pertanyaan yang kini menggantung: di mana batas antara kritik selera dan hukuman sosial yang berlebihan?



