Setu Babakan: Benteng Terakhir Budaya Betawi di Tengah Arus Modernisasi Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan tetap menjadi ruang hidup bagi tradisi, dari kuliner hingga seni pertunjukan.
- Para pelaku UMKM dan seniman di kawasan ini berinovasi tanpa kehilangan akar budaya, namun menghadapi tantangan regenerasi dan pengelolaan sampah.
- Pemerintah DKI Jakarta berupaya memperkuat ekosistem budaya melalui edukasi dan festival, tetapi masa depan Betawi bergantung pada keterlibatan generasi muda.

Di tengah deru pembangunan Jakarta yang kian modern, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan di Jagakarsa, Jakarta Selatan, masih berdiri sebagai oase identitas. Kawasan seluas 289 hektare ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang hidup di mana tradisi Betawiโdari kuliner hingga ritus pernikahanโterus dipraktikkan dan diwariskan. Saat hiruk-pikuk ibu kota makin tak terbendung, Setu Babakan menjadi saksi bagaimana sebuah komunitas berjuang mempertahankan jati diri di tengah gempuran zaman.
Suasana khas langsung terasa begitu memasuki gerbang kayu kawasan ini. Deru klakson kendaraan berganti dengan desau angin danau, dan aroma rempah dari lapak-lapak UMKM mulai tercium. Di barisan lapak, Zahrudin (63), atau akrab disapa Bang Zahrudin, telah 22 tahun menekuni pembuatan Kerak Telor. Baginya, kuliner ini bukan sekadar mata pencaharian, melainkan warisan yang ia titipkan kepada kedua anaknya. "Dulu, Kerak Telor hanya ada setahun sekali di PRJ. Setelah itu, para pedagang bubar, ada yang jadi sopir, ada yang jadi tukang batu," kenangnya. Ia sengaja menurunkan resep rahasia kepada anak-anaknya agar mereka memiliki keterampilan yang bisa diandalkan di masa sulit.
Namun, bertahan di tengah selera yang berubah bukan perkara mudah. Mpok Mayang, penerus ketiga Es Selendang Mayang yang telah 16 tahun berjualan di Setu Babakan, mengaku prihatin karena minuman tradisional ini nyaris punah. "Anak-anak sekarang lebih kenal minuman modern," ujarnya. Sejak 2008, ia berinovasi dengan menambah topping kekinian agar generasi muda mau mencicipi sagu kenyal buatannya. Upayanya membuahkan hasil: es selendang mayang kini dipesan hingga ke Surabaya dan kantor-kantor besar, termasuk Bursa Efek. Hal serupa dialami Mpok Mutia, penjual Gado-gado dan Nasi Uduk selama 10 tahun. Ia menyayangkan banyak anak sekolah yang baru mengenal gado-gado setelah mencicipinya. "Mereka bilang, 'saya baru tahu, Bu'. Sedih melihatnya," tuturnya. Menurut Mpok Mutia, pemerintah perlu berperan lebih aktif, misalnya dengan memasukkan pengenalan kuliner Betawi ke dalam kurikulum sekolah.
Di luar soal kuliner, regenerasi seni budaya juga menjadi perhatian. Tiyas (25), seorang penari berdarah Jawa, telah mengabdikan diri mengajar tari Betawi di Ciganjur sejak pandemi 2020. Meski bukan Betawi asli, ia belajar langsung dari para maestro agar tidak merusak marwah tarian tersebut. Kini, sanggar Laskar yang ia bina memiliki lebih dari 50 murid. "Tantangannya besar karena aku bukan Betawi asli. Aku harus belajar ke maestro-maestro," akunya. Tiyas berharap budaya Betawi terus hidup dan menjadi kebiasaan, bukan sekadar tontonan.
Budayawan Betawi, Indra Sutisna (57), menegaskan bahwa budaya bukan sekadar simbol, melainkan harus memiliki ruh. Ia mengecam praktik ondel-ondel yang digunakan untuk mengemis dengan penampilan serampangan, yang dinilainya sebagai degradasi moral. Indra juga mengusulkan agar Bir Pletok menjadi minuman selamat datang wajib di hotel-hotel Jakarta, dengan sanksi bagi yang tidak mematuhi. "Jangan sampai ketika budaya kita sudah tiada atau diklaim pihak lain, kita baru marah-marah," pesannya. Senada, Rudi (56) dari Lembaga Kebudayaan Betawi mengingatkan ancaman "kematian obor" ketika generasi muda buta akan ritual budayanya. Ia menganalogikan dengan wayang yang kini perlahan punah. Rudi menantang anak muda untuk menjadi "kabel" penghubung yang menyuarakan tradisi lewat media sosial.
Pengelola kawasan, melalui Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPK PBB), terus berupaya menghidupkan budaya. Diana Farmeita, Pelaksana Satlak Edukasi, Informasi, dan Pelayanan, menjelaskan bahwa edukasi diberikan melalui koleksi museum, pertunjukan kesenian, dan praktik langsung. Pergelaran Kesenian Tradisional Betawi digelar secara reguler dan dipromosikan lewat media sosial. Namun, Diana mengakui bahwa persoalan sampah menjadi tantangan terbesar yang membayangi aktivitas kawasan. "Tantangan terbesar dalam mengelola Setu Babakan saat ini yaitu pengelolaan sampah," ujarnya.
Di tengah segala upaya itu, optimisme tetap terlihat. Seorang pengunjung muda, Iin (27), yang telah lima tahun tinggal di Srengseng Sawah, mengamati bahwa meski pengunjung kadang sepi, anak-anak tetap antusias menari. "Selama generasinya masih mau meneruskan adatnya, Betawi bakal terus bertahan," katanya. Saat matahari condong ke barat, pertunjukan Palang Pintu dimulai, diiringi sorak-sorai penonton. Jakarta mungkin terus berlari menuju kota global, tetapi di Setu Babakan, sebuah identitas sedang dirayakan. Pertanyaannya, akankah generasi berikutnya tetap menjadi penjaga obor, atau membiarkannya padam?



