Cinder City: Game Pertama yang Wajibkan RAM 64 GB, Spek PC Kian Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Game open-world PvE Cinder City menjadi judul PC pertama yang menetapkan RAM 64 GB sebagai syarat rekomendasi, menandai lompatan besar kebutuhan perangkat keras.
- Latar Seoul pasca-apokaliptik dengan grafis ambisius membuat game ini hanya bisa dimainkan di PC high-end, berpotensi membatasi basis pemain.
- Fenomena ini mendorong diskusi tentang kesenjangan spesifikasi di industri game, terutama relevan bagi gamer Indonesia yang masih dominan menggunakan PC kelas menengah.

Game open-world third-person shooter Cinder City mencatat sejarah sebagai judul PC pertama yang mewajibkan RAM 64 GB untuk pengaturan rekomendasi, sebuah lonceng peringatan bagi para gamer yang belum memperbarui perangkat keras mereka. Diumumkan pertama kali di Gamescom 2025, game ini menjanjikan pengalaman visual yang sangat ambisius dengan latar Seoul yang dihancurkan oleh mutan, namun di balik itu semua terdapat tuntutan spesifikasi yang belum pernah ada sebelumnya.
Menurut informasi yang tercantum di halaman Steam, Cinder City membutuhkan RAM minimal 32 GB dan prosesor setara Intel Core i5-10400 atau AMD Ryzen 5 3600. Namun, untuk menikmati game secara optimal, pengembang merekomendasikan RAM 64 GB, prosesor Intel Core i7-12700 atau AMD Ryzen 7 7800X3D, serta kartu grafis NVIDIA GeForce RTX 4060 dengan VRAM 8 GB. Kebutuhan penyimpanan relatif moderat, hanya 50 GB, tetapi persyaratan RAM yang ekstrem menjadi sorotan utama.
Keputusan ini menimbulkan pertanyaan tentang arah industri game PC. Selama bertahun-tahun, RAM 16 GB telah menjadi standar de facto untuk game AAA, dengan beberapa judul mulai merekomendasikan 32 GB. Cinder City melompat langsung ke 64 GB, dua kali lipat dari standar baru yang sedang berkembang. Analis industri menilai langkah ini sebagai sinyal bahwa pengembang semakin berani mendorong batas teknis demi realisme grafis, meskipun berisiko mengalienasi sebagian besar basis pemain yang masih menggunakan PC dengan RAM 16-32 GB.
Bagi gamer Indonesia, berita ini menjadi pengingat pahit akan kesenjangan spesifikasi. Survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas PC gaming di Indonesia masih mengandalkan RAM 16 GB, dengan hanya sebagian kecil yang telah beralih ke 32 GB. Harga RAM DDR5 yang masih relatif mahal di pasar lokal membuat upgrade ke 64 GB menjadi investasi yang tidak sedikit. Jika tren ini berlanjut, banyak judul masa depan mungkin akan menuntut perangkat keras yang di luar jangkauan rata-rata konsumen Tanah Air.
Di sisi lain, langkah berani ini juga bisa menjadi pembeda bagi Cinder City di tengah persaingan game PvE open-world. Dengan grafis yang disebut-sebut sangat detail, game ini berpotensi menawarkan pengalaman imersif yang sulit ditandingi oleh judul lain yang harus berkompromi dengan spesifikasi rendah. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah pasar siap menerima lompatan spesifikasi yang begitu drastis, terutama ketika konsol generasi terbaru seperti PlayStation 5 dan Xbox Series X hanya memiliki RAM 16 GB.
Belum ada tanggal rilis pasti untuk Cinder City, tetapi kehadirannya di Steam sudah cukup memicu perdebatan di forum-forum diskusi. Para pengembang tampaknya sengaja menempatkan game ini sebagai ajang unjuk kekuatan teknis, mirip dengan apa yang dilakukan Crysis pada zamannya. Namun, apakah strategi itu akan berhasil di era di mana gamer semakin sadar biaya? Atau justru akan menjadi pelajaran berharga bahwa ambisi visual harus diimbangi dengan aksesibilitas? Jawabannya mungkin baru akan terlihat setelah game ini benar-benar dirilis.



