Vokalis The Village People, Victor Willis, Meninggal Dunia di Usia 74
Baca dalam 60 detik
- Victor Willis, pendiri dan vokalis The Village People, meninggal pada 30 Juni 2026 akibat penyakit singkat namun agresif.
- Kepergiannya meninggalkan warisan lagu ikonik YMCA yang sempat menjadi kontroversi politik di Amerika Serikat.
- Di Indonesia, lagu YMCA tetap populer di acara hiburan dan pernikahan, namun jarang dikaitkan dengan isu identitas gender.

Victor Willis, vokalis utama dan salah satu pendiri grup disko legendaris The Village People, meninggal dunia pada Selasa, 30 Juni 2026, di usia 74 tahun setelah berjuang melawan penyakit singkat namun agresif. Kabar duka ini diumumkan oleh keluarga melalui pernyataan resmi di Facebook, meminta privasi di masa berkabung.
Willis dikenal luas sebagai penggerak di balik kesuksesan The Village People, grup yang namanya diambil dari kawasan Greenwich Village di Manhattan. Bersama produser asal Prancis, Jacques Morali, ia melahirkan sederet lagu yang menjadi anthem generasi, termasuk YMCA, Go West, dan Macho Man. YMCA, yang dirilis pada 1978, masih menjadi favorit di pesta dan pernikahan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, YMCA mendapat sorotan karena sering digunakan oleh mantan Presiden AS Donald Trump dalam kampanye dan acara penggalangan dana. Trump bahkan menyebutnya sebagai "lagu kebangsaan gay" dan mengklaim lagu itu membantunya meraih suara dari komunitas LGBTQ+. Namun, Willis dengan tegas membantah interpretasi tersebut. Ia pernah menyatakan akan menuntut media yang menyebut YMCA sebagai "gay anthem", dengan alasan lirik lagu tidak merujuk pada aktivitas seksual tertentu.
Karier Willis dimulai dari paduan suara gospel di gereja Baptis milik ayahnya. Ia kemudian merambah dunia akting dan tampil di Broadway dalam musikal The Wiz sebelum bergabung dengan Morali. The Village People dibentuk pada 1977 dan langsung meroket dengan YMCA setahun kemudian. Willis hengkang dari grup pada 1980, tetapi kembali dan menjadi satu-satunya anggota pendiri yang masih aktif tur hingga akhir hayatnya.
Kepergian Willis meninggalkan jejak mendalam di industri musik. Di Indonesia, lagu-lagu The Village People masih sering diputar di acara olahraga, pesta, dan pernikahan, meskipun tidak pernah menjadi bagian dari perdebatan politik identitas seperti di AS. Bagi penggemar musik disko tanah air, YMCA lebih diingat sebagai lagu riang yang mengajak bergerak, bukan sebagai simbol kontroversi.
Warisan Willis akan terus hidup melalui irama yang tak lekang waktu. Pertanyaan yang kini mengemuka: bagaimana nasib tur The Village People tanpa sosok sentralnya? Dan akankah YMCA tetap menjadi lagu netral di panggung politik global?



