David Boreanaz Akui Tak Menduga Buffy The Vampire Slayer Jadi Fenomena Global
Baca dalam 60 detik
- David Boreanaz mengaku tidak menyangka serial Buffy The Vampire Slayer akan meledak menjadi fenomena budaya pop.
- Aktor yang memerankan Angel itu menyebut popularitas serialnya seperti bola energi yang terus membesar dan sulit dipertahankan.
- Kini sebagai produser, Boreanaz menekankan pentingnya keseimbangan antara efisiensi biaya dan kebebasan kreatif di era streaming.

David Boreanaz, aktor yang memerankan Angel dalam serial legendaris Buffy The Vampire Slayer, mengaku sama sekali tidak membayangkan bahwa acara yang dibintanginya akan meledak menjadi fenomena global. Dalam wawancara terbaru dengan The Upcoming, pria berusia 57 tahun itu mengatakan bahwa dirinya hanya merasa beruntung bisa bekerja dan menjadi bagian dari sesuatu yang unik, tanpa pernah menduga skala popularitas yang akan diraih.
Serial yang tayang dari 1997 hingga 2003 itu sukses besar di Amerika Serikat dan berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana Buffy dan Angel (spin-off yang juga dibintangi Boreanaz) memiliki basis penggemar setia. Bagi banyak penonton Indonesia di era 1990-an dan awal 2000-an, serial ini menjadi salah satu tontonan kultus yang membentuk selera pop culture mereka. Namun, di balik kesuksesan itu, Boreanaz mengakui bahwa perjalanannya penuh dengan tantangan.
โSama sekali tidak ada bayangan,โ ujar Boreanaz ketika ditanya apakah ia memiliki firasat tentang besarnya dampak serial tersebut. โKamu memulai dari yang sangat kecil, lalu berubah menjadi energi raksasaโbola energi yang terus membesar. Bagaimana cara mempertahankannya? Itu naik turun,โ tambahnya. Ia menekankan bahwa dirinya menikmati setiap fase perjalanan tersebut dan tidak pernah menganggap remeh kesempatan yang ada.
Selain membahas masa lalu, Boreanaz juga berbicara tentang perannya sebagai produser yang kini semakin relevan di era streaming. Menurutnya, tuntutan industri berubah drastis. โSemua orang menginginkan semuanya lebih cepat. Sebagai produser, Anda harus efisien, tahu cara memotong adegan, dan efektif dalam biaya,โ jelasnya. Namun, ia menegaskan bahwa produser yang baik tidak hanya paham soal keuangan, tetapi juga proses kreatif.
Boreanaz, yang pernah menjadi produser di Bones dan kini memproduseri serial terbarunya The Rockford Files, memiliki pendekatan unik. โSaya suka menginspirasi sutradara dan aktor. Membuat mereka merasa bebas dan longgar, sehingga efisiensi datang dengan sendirinya. Saya bukan akuntan atau kepala studio. Saya hanya seorang kreator yang suka menginspirasi,โ ujarnya. The Rockford Files sendiri merupakan remake dari serial klasik tahun 1970-an yang dibintangi James Garner, dan dijadwalkan tayang perdana pada Januari 2027.
Bagi penggemar di Indonesia, pernyataan Boreanaz ini menjadi pengingat bahwa di balik layar, kesuksesan sebuah serial tidak pernah terlepas dari ketidakpastian dan kerja keras. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah The Rockford Files mampu mengulang jejak Buffy sebagai fenomena baru, atau justru menjadi catatan kaki dalam karier seorang aktor yang pernah menjadi bagian dari sejarah televisi?



