Gaji Tak Setara dan Lembur Paksa: Tudingan Baru Menimpa Rockstar Games di Tengah Antusiasme GTA VI
Baca dalam 60 detik
- Serikat pekerja internal Rockstar Games mengungkap praktik ketidakadilan gaji berbasis gender dan lembur wajib yang tertuang dalam kontrak karyawan.
- Klausul opt-out dari regulasi jam kerja memungkinkan perusahaan meminta lembur lebih dari 10 jam per minggu tanpa persetujuan eksplisit.
- Take-Two Interactive, induk perusahaan, membantah tudingan dan mengklaim tingkat retensi karyawan di atas rata-rata industri.

Di tengah euforia publik yang menanti kehadiran Grand Theft Auto VI, tekanan terhadap pengembangnya, Rockstar Games, justru melahirkan gelombang protes dari dalam. Tiga anggota anonim dari Rockstar Games Workers Union melontarkan tuduhan serius: praktik pengupahan yang tidak transparan, kesenjangan gender yang melebar, serta kewajiban lembur yang sudah menjadi bagian dari kontrak kerja.
Menurut para pekerja, sistem bonus dan kenaikan gaji di Rockstar tidak memiliki kejelasan, bahkan diduga digunakan sebagai alat untuk mengontrol staf. Kesenjangan upah antara karyawan pria dan wanita dilaporkan semakin lebar dalam beberapa tahun terakhir, sebuah isu yang sudah lama menghantui industri gim global. Namun yang paling mencolok adalah praktik crunchโbudaya lembur ekstremโyang disebut telah diinstitusionalisasikan melalui klausul kontrak.
Seorang anggota serikat menyatakan, โCrunch sudah sedemikian lazim sehingga perusahaan secara standar memasukkan klausul opt-out dari regulasi jam kerja ke dalam kontrak. Padahal aturan itu seharusnya melindungi pekerja dari lembur lebih dari 10 jam per minggu.โ Pernyataan ini mengindikasikan bahwa praktik lembur bukan lagi pengecualian, melainkan ekspektasi yang terlembagakan.
Menanggapi tuduhan tersebut, Take-Two Interactive, induk perusahaan Rockstar, mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menegaskan komitmen terhadap lingkungan kerja yang kompetitif dan penuh penghargaan. โKami berusaha menciptakan gim terbaik dengan memberikan tim kami lingkungan kerja kelas dunia dan peluang karier berkelanjutan. Budaya kami berfokus pada kerja sama, keunggulan, dan kebaikan,โ demikian bunyi pernyataan yang dikutip dari Game Developer. Take-Two juga mengklaim tingkat retensi karyawan mereka jauh di atas standar industri, serta menyatakan akan bertemu dengan serikat pekerja untuk membahas pengakuan sukarela.
Bagi industri gim Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa praktik crunch bukan monopoli studio besar di luar negeri. Beberapa pengembang lokal, terutama yang terlibat dalam proyek gim skala besar atau kerja sama dengan penerbit global, kerap menghadapi tekanan serupa. Isu kesenjangan upah gender juga relevan di tengah upaya mendorong lebih banyak perempuan masuk ke sektor teknologi dan kreatif. Regulasi ketenagakerjaan di Indonesia, seperti UU Cipta Kerja, memang mengatur batas lembur, namun pengawasan di industri gim masih longgar.
Ke depan, pertanyaan kuncinya bukan hanya apakah Rockstar akan mengubah praktiknya, tetapi apakah tekanan publik dan serikat pekerja mampu mendorong perubahan sistemik di seluruh industri. Dengan GTA VI yang dijadwalkan rilis pada 2025, sorotan terhadap kondisi kerja di balik layar gim paling dinanti sepanjang masa ini dipastikan tidak akan mereda.



