Harga Minyak Menguat di Tengah Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- Kegagalan dialog AS-Iran mencapai kesepakatan akhir memicu kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah, mendorong kenaikan harga minyak.
- Meskipun lalu lintas tanker di Selat Hormuz pulih, pasar masih membebani premi risiko geopolitik hingga ada kemajuan nyata.
- Penurunan stok minyak mentah AS sebesar 6,1 juta barel pekan lalu turut menopang harga, dengan data resmi EIA dinanti investor.

Harga minyak mentah dunia kembali menanjak pada Rabu (9/4/2025) setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran gagal menghasilkan terobosan, memperkuat kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan di kawasan Teluk. Brent tercatat di level 73,02 dolar AS per barel, naik tipis 0,1 persen dari penutupan sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertengger di 69,57 dolar AS per barel.
Kenaikan ini terjadi di tengah dinamika diplomatik yang rumit. Utusan Gedung Putih, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terbang ke Doha setelah Presiden Donald Trump menyebut Iran meminta perundingan. Namun, Teheran membantah adanya rencana dialog langsung, hanya mengakui kontak melalui perantara. Qatar mengonfirmasi pertemuan antara Menteri Luar Negeri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dengan utusan AS pada Selasa (8/4/2025), sementara Wakil Presiden JD Vance menyatakan diskusi teknis tetap berlangsung meskipun Iran membantah secara publik.
Di sisi lain, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuzโjalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima konsumsi minyak globalโterus pulih. Vance bahkan mengklaim volume pengiriman minyak telah kembali ke level sebelum konflik. Namun, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Qalibaf, menyatakan bahwa kebebasan navigasi melalui selat tersebut hanya berlaku 60 hari berdasarkan nota kesepahaman terbaru dengan AS. Pernyataan ini menimbulkan ketidakpastian jangka panjang bagi pelayaran di kawasan.
Dari sisi fundamental, pasar juga mencermati data persediaan minyak AS. Laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS menyusut 6,1 juta barel pekan lalu, diikuti penurunan stok bensin. Angka ini memperkuat ekspektasi permintaan yang solid di negara konsumen minyak terbesar dunia. Investor kini menanti data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan rilis Rabu waktu setempat untuk konfirmasi lebih lanjut.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak global berdampak langsung pada beban subsidi energi dan anggaran negara. Dengan harga minyak yang masih rentan terhadap ketegangan geopolitik, pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan biaya impor minyak mentah yang dapat memberatkan neraca perdagangan. Di sisi lain, peluang peningkatan pendapatan dari sektor hulu migas juga patut dicermati, terutama jika harga bertahan di atas 70 dolar AS per barel.
Ke depan, arah pergerakan harga akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran dan kepastian jangka waktu kesepakatan navigasi di Selat Hormuz. Jika dialog kembali menemui jalan buntu, premi risiko geopolitik berpotensi mendorong harga lebih tinggi. Sebaliknya, terobosan diplomatik dapat memicu koreksi tajam. Pertanyaannya, akankah kedua pihak mampu mencapai kesepakatan yang menguntungkan sebelum batas waktu 60 hari yang disinyalir Iran?



