Pegadaian Gencar Genjot Bisnis Emas di Tengah Volatilitas Harga dan Suku Bunga Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Harga emas global masih bergejolak di bawah USD 4.000 per troy ons, namun Pegadaian optimistis prospek investasi emas tetap cerah.
- Transaksi emas di Pegadaian melonjak 140% hingga Mei 2026, didorong segmen cicil emas fisik dan digital yang diminati milenial dan Gen Z.
- Pegadaian mengandalkan efisiensi biaya dan optimalisasi pendapatan dari bisnis emas dan gadai sebagai penopang utama di era suku bunga tinggi.

PT Pegadaian (Persero) tetap optimistis terhadap prospek bisnis emas meskipun harga komoditas tersebut masih bergerak volatil di tengah ketidakpastian global dan tren kenaikan suku bunga. Pada akhir Juni 2026, harga emas sempat menyentuh level di bawah USD 4.000 per troy ons, namun perusahaan pelat merah ini justru melihat momentum sebagai peluang pertumbuhan.
Direktur Keuangan & Perencanaan Strategis Pegadaian, Ferdian Timur Satyagraha, menilai bahwa saat ini harga emas relatif lebih murah dibandingkan periode sebelumnya, sementara tren kenaikan jangka panjang masih terjaga. Hal ini membuat investasi emas tetap menarik, terutama bagi generasi muda yang mulai melirik logam mulia sebagai instrumen investasi.
Pegadaian mencatat pertumbuhan signifikan pada segmen cicil emas, baik fisik maupun digital. Hingga Mei 2026, transaksi emas menjadi motor utama pertumbuhan bisnis perseroan. Ferdian mengungkapkan bahwa peningkatan literasi keuangan dan kemudahan akses melalui platform digital menjadi faktor kunci di balik lonjakan minat investasi emas di kalangan anak muda.
Di tengah tekanan suku bunga tinggi yang membuat biaya pendanaan meningkat, Pegadaian tidak hanya mengandalkan bisnis emas. Perusahaan juga menggenjot segmen gadai yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan. Strategi efisiensi biaya produksi dan efektivitas pendapatan diterapkan untuk menjaga margin keuntungan.
Bagi investor Indonesia, tren ini memberikan sinyal bahwa emas tetap menjadi aset safe haven yang relevan, terutama saat pasar keuangan global tidak menentu. Pegadaian, sebagai BUMN yang menguasai pangsa pasar gadai dan emas ritel, diproyeksikan akan terus memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana Pegadaian mampu mempertahankan pertumbuhan bisnis emas jika harga kembali merangkak naik tajam. Apakah minat milenial dan Gen Z akan bertahan, atau justru beralih ke instrumen lain saat kondisi ekonomi membaik?



