Mandiri Jogja Marathon 2026 Pacu Belanja Masyarakat DIY Hingga 7,4%, Tertinggi di Jawa
Baca dalam 60 detik
- Riset Mandiri Institute mencatat belanja masyarakat DIY pada pekan penyelenggaraan MJM 2026 naik 7,4% secara tahunan, melampaui capaian 2025 sebesar 4,6%.
- Pertumbuhan konsumsi di DIY 1,2โ4,1 kali lebih tinggi dibandingkan Bandung, Semarang, Jakarta, dan Surabaya pada periode yang sama.
- Akselerasi belanja mingguan mencapai 7,3% WoW, tertinggi dalam empat tahun terakhir, menunjukkan efektivitas sport tourism sebagai katalis ekonomi lokal.

Lonjakan belanja masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama pekan Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 mencapai 7,4% dibandingkan rata-rata periode sebelum acara, menjadikannya pertumbuhan tertinggi di antara kota-kota besar di Pulau Jawa. Angka ini sekaligus melampaui dampak edisi sebelumnya yang hanya mencatat kenaikan 4,6%.
Berdasarkan riset Mandiri Institute, periode 15โ21 Juni 2026โsaat MJM berlangsungโmenunjukkan akselerasi belanja mingguan (week-on-week) sebesar 7,3%, tertinggi dalam empat tahun terakhir sejak 2023. Sebagai perbandingan, pada pekan-pekan sebelumnya rata-rata pertumbuhan belanja mingguan DIY hanya sekitar 0,5% meskipun sudah memasuki masa libur sekolah. Artinya, event sport tourism ini mampu menggandakan daya beli warga secara signifikan.
Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menegaskan bahwa MJM dirancang bukan sekadar ajang lari, melainkan platform yang menyinergikan olahraga, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi. "Semangat 'More Than a Race' kami wujudkan dengan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat, pelaku usaha, dan daerah," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (3/7/2026). Menurut Bank Mandiri, mobilitas peserta dan wisatawan mendorong aktivitas di sektor akomodasi, transportasi, kuliner, perdagangan, hingga UMKM yang terlibat dalam rangkaian kegiatan.
Bagi pelaku usaha di Yogyakarta, lonjakan konsumsi ini menjadi angin segar di tengah tekanan ekonomi global. Ketua Asosiasi UMKM DIY, yang dihubungi secara terpisah, menilai bahwa event berskala nasional seperti MJM mampu mempercepat perputaran uang di sektor informal. "Biasanya libur sekolah hanya meningkatkan belanja tipis, tapi dengan adanya marathon, dampaknya terasa hingga ke pedagang kaki lima dan penginapan kecil," katanya. Ia berharap pemerintah daerah dan penyelenggara terus memperluas keterlibatan UMKM lokal dalam setiap rangkaian acara.
Ke depan, Bank Mandiri berencana memperkuat kolaborasi dengan pemangku kepentingan untuk memperluas manfaat MJM. Adhika menambahkan, "Kami ingin sport tourism nasional semakin berkembang dan memberikan kontribusi berkelanjutan bagi perekonomian daerah." Pertanyaannya, mampukah model ini direplikasi di kota-kota lain untuk mengurangi ketimpangan konsumsi antarwilayah?



