KKR dan SK Inc Genggam Rp19 Triliun untuk Platform Energi Terbarukan Terbesar Korea Selatan
Baca dalam 60 detik
- KKR dan SK Inc mendirikan perusahaan patungan energi terbarukan senilai 2 triliun won atau sekitar Rp19 triliun, menjadi yang terbesar di Korea Selatan.
- Platform ini mengintegrasikan aset tenaga surya, angin, dan sel bahan bakar dari tiga anak usaha SK dengan kapasitas operasi awal 1,7 GW dan target 10 GW.
- Investasi ini didorong oleh lonjakan permintaan listrik dari pusat data AI dan pabrik semikonduktor, sejalan dengan tren global transisi energi.

Perusahaan ekuitas swasta global KKR dan konglomerat Korea Selatan SK Inc mengumumkan pembentukan perusahaan patungan energi terbarukan senilai 2 triliun won, setara dengan sekitar US$1,3 miliar atau Rp19 triliun. Langkah ini menjadikannya platform energi hijau terbesar di Korea Selatan, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan listrik yang melonjak dari pusat data kecerdasan buatan (AI) dan pabrik semikonduktor.
Platform tersebut akan menggabungkan aset energi terbarukan dari tiga anak perusahaan SKโSK Innovation, SK ecoplant, dan SK eternixโyang mencakup pembangkit listrik tenaga surya, angin darat dan lepas pantai, serta sel bahan bakar. Menurut pernyataan resmi kedua perusahaan, kapasitas operasional awal mencapai 1,7 gigawatt (GW), dengan rencana pengembangan yang akan membawa total kapasitas menjadi 10 GW. Angka tersebut setara dengan kebutuhan listrik untuk 100 pusat data berskala 100 megawatt.
Dalam struktur kepemilikan, KKR akan memegang kendali manajemen awal dengan 51% saham, sementara SK Inc memiliki 49%. Namun, SK Inc berpeluang memperoleh hak kendali melalui negosiasi di masa depan. Perusahaan patungan ini ditargetkan resmi beroperasi pada akhir tahun ini.
Langkah ini tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan energi untuk industri teknologi tinggi di Korea Selatan. Pusat data AI dan pabrik chip, yang menjadi tulang punggung ekonomi digital, membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan ramah lingkungan. Dengan komitmen pemerintah Korea Selatan untuk mencapai netralitas karbon pada 2050, investasi di energi terbarukan menjadi prioritas strategis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cerminan pentingnya percepatan transisi energi untuk mendukung pertumbuhan industri digital. Dengan rencana pembangunan pusat data dan ekosistem AI di Tanah Air, kebutuhan listrik hijau diprediksi meningkat tajam. Kolaborasi antara investor global dan perusahaan lokal, seperti yang dilakukan KKR dan SK, bisa menjadi model bagi Indonesia untuk menarik investasi serupa, terutama dalam pengembangan energi surya dan angin yang potensinya melimpah.
Ke depan, keberhasilan platform ini akan bergantung pada kemampuan mengintegrasikan aset yang beragam serta menjaga efisiensi biaya. Pertanyaan yang muncul adalah apakah model kemitraan seperti ini dapat diadopsi di pasar negara berkembang seperti Indonesia, mengingat perbedaan regulasi dan infrastruktur.



