Harga Rumah Subsidi Singapura Anjlok Dua Kuartal Berturut-turut, Pasar Properti Pribadi Melambat
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga jual kembali HDB turun 0,3% pada Q2-2026, setelah sebelumnya turun 0,1% di Q1, menandai penurunan pertama dalam tujuh tahun.
- Pelemahan pasar tenaga kerja dan PHK struktural membuat pembeli lebih berhati-hati, memilih BTO ketimbang resale, sehingga volume transaksi turun 10,2%.
- Sektor properti pribadi masih tumbuh 0,5% (lebih lambat dari 0,9% di Q1), dengan harga landed melonjak 2,6% sementara non-landed di pusat kota justru turun.

Indeks harga jual kembali rumah susun milik negara (HDB) di Singapura kembali merosot pada kuartal kedua 2026, memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Berdasarkan estimasi cepat Otoritas Perumahan dan Pembangunan (HDB) yang dirilis Rabu (1/7), indeks tersebut turun 0,3 persen secara kuartalan, setelah sebelumnya terkoreksi 0,1 persen pada kuartal pertama. Penurunan dua kuartal berturut-turut ini menjadi sinyal paling jelas bahwa pasar properti rakyat Singapura sedang memasuki fase perlambatan.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan sektor properti pribadi yang masih mencatat kenaikan harga, meski lajunya melambat. Data estimasi cepat Otoritas Pembangunan Perkotaan (URA) menunjukkan harga properti residensial pribadi naik 0,5 persen di Q2-2026, turun dari 0,9 persen pada kuartal sebelumnya. Perbedaan arah ini mencerminkan pergeseran preferensi pembeli di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
Analis menilai pelemahan pasar tenaga kerja menjadi faktor utama di balik lesunya permintaan rumah HDB. Lee Sze Teck, Direktur Senior Analitik Data di Huttons, mengatakan pembeli kini sangat berhati-hati dalam menentukan harga tawar. โBanyak yang memilih mencoba peruntungan di flat BTO (Build-to-Order), terutama di lokasi premium,โ ujarnya. Kepala Peneliti dan Strategis Realion (OrangeTee & ETC) Group, Christine Sun, menambahkan bahwa PHK struktural dan prospek rekrutmen yang lebih lemah membuat calon pembeli lebih konservatif. โPerubahan apa pun di pasar kerja bisa memengaruhi kepercayaan finansial dan kapasitas pinjaman mereka,โ jelasnya.
Dari sisi geografis, penurunan harga paling tajam terjadi di Serangoon (7,9 persen), disusul Marine Parade (7,6 persen) dan Geylang (6,9 persen). Total 16 kota mencatat koreksi harga jual kembali. Volume transaksi hingga 29 Juni juga menyusut 10,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi 6.268 unit. Akibatnya, waktu penjualan flat HDB resale memanjang menjadi rata-rata dua hingga tiga bulan, menurut Lee.
Ke depan, pasar HDB diperkirakan masih akan stagnan pada paruh kedua 2026. Pembeli akan dihadapkan pada lebih banyak pilihan dari proyek BTO dan sekitar 13.484 flat resale yang akan memenuhi masa hunian minimum lima tahun (MOP) tahun ini. HDB sendiri akan meluncurkan sekitar 7.960 flat baru di Bedok, Geylang, Sembawang, Tengah, Toa Payoh, dan Yishun pada Oktober mendatang.
Sementara itu, sektor properti pribadi menunjukkan gambaran yang lebih beragam. Harga properti non-landed di Core Central Region justru naik 2 persen, sementara di Rest of Central Region dan Outside Central Region masing-masing turun 1,4 persen dan 0,2 persen. Sebaliknya, properti landed melonjak 2,6 persen setelah sebelumnya turun 0,4 persen. Volume transaksi properti pribadi secara umum masih stabil dibanding kuartal pertama.
URA dan HDB dalam pernyataan bersama mengingatkan bahwa prospek makroekonomi masih sangat tidak pasti. Mereka mendesak rumah tangga untuk berhati-hati dalam membeli properti dan mengambil pinjaman. Di sisi lain, Kepala Riset dan Analitik Data SRI, Mohan Sandrasegeran, optimistis aktivitas pasar properti pribadi akan kembali bergairah pada semester kedua seiring masuknya gelombang baru peluncuran residensial. โMeski tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi membuat sebagian pembeli lebih hati-hati, permintaan terhadap proyek baru diprediksi tidak akan melemah signifikan. Pembeli akan lebih fokus pada lokasi, harga, dan nilai keseluruhan,โ katanya.
Bagi Indonesia, dinamika properti Singapura kerap menjadi indikator awal bagi tren properti di kawasan Asia Tenggara. Perlambatan di segmen rumah rakyat Singapura bisa menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat menengah di negara maju pun mulai tertekan. Investor properti Indonesia yang memiliki portofolio di Singapura atau berencana ekspansi ke sana perlu mencermati pergeseran permintaan ini. Apakah pasar properti Indonesia akan mengalami pola serupa jika kondisi ekonomi global memburuk?



