Piala Dunia di AS: Antara Keraguan Awal dan Euforia yang Menggema
Baca dalam 60 detik
- Meski sempat diragukan karena dominasi NBA dan minimnya gairah awal, Piala Dunia 2026 di AS akhirnya berhasil mencuri perhatian publik berkat peran diaspora dan performa timnas.
- Kota-kota seperti Philadelphia, Boston, dan Seattle menjadi episentrum perayaan, sementara Houston dan Los Angeles menunjukkan antusiasme yang lebih terkotak-kotak secara geografis.
- Keberhasilan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk belajar dari model penyelenggaraan multi-kota dan pengelolaan basis penggemar multikultural dalam ajang olahraga global.

Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sempat diragukan mampu membangkitkan demam sepak bola di tengah gempuran liga-liga olahraga lokal. Namun, setelah beberapa pekan berjalan, para jurnalis yang meliput turnamen ini sepakat: euforia itu akhirnya tiba, meski dengan jalan yang berliku.
Keraguan itu beralasan. Saat rombongan wartawan BBC tiba di New York, perhatian publik tengah tersedot habis oleh kesuksesan New York Knicks yang merebut gelar NBA setelah 53 tahun. "Di minggu pertama, yang terasa adalah demam Knicks, bukan demam Piala Dunia," ujar Ian Dennis, jurnalis senior BBC Radio 5 Live. Los Angeles pun tak berbeda: spanduk-spanduk kecil di jalan tol dan beberapa papan iklan terasa seperti promosi formal tanpa greget.
Namun, perlahan tapi pasti, gelombang dukungan mulai terbangun. Titik balik terjadi ketika para penggemar diaspora—warga AS yang berasal dari negara-negara peserta—turun ke jalan. John Bennett, koresponden BBC, menceritakan sebuah momen di Greenwich Village: sekelompok pekerja konstruksi dan pebisnis berhenti di depan bar, terpaku pada layar TV yang menayangkan sisa pertandingan Cape Verde melawan Spanyol. "Demam Piala Dunia sudah tiba," katanya.
Performa gemilang timnas AS juga menjadi katalis. "Ketika tim tuan rumah mulai menang, warga Amerika benar-benar mendukung mereka, dan mereka bahkan menciptakan nyanyian yang lumayan bagus," ungkap Sam Harris, yang meliput delapan pertandingan di New Jersey, Philadelphia, Toronto, Boston, dan Miami. Stadion-stadion yang dikunjunginya tampak penuh, meredakan kekhawatiran akan kursi kosong yang sempat menghantui penyelenggara.
Namun, antusiasme ini tidak merata. Sam Harris mencatat bahwa Philadelphia dan Boston benar-benar menyatu dengan turnamen, sementara Houston terasa berbeda. "Kota itu sangat tersebar secara geografis, Anda harus berkendara ke mana-mana, sehingga sulit menemukan atmosfer Piala Dunia di luar stadion," jelasnya. Di sisi lain, Los Angeles memanfaatkan ikon-ikon kotanya: zona penggemar di Santa Monica Pier, LA Memorial Coliseum, dan Union Station, di mana papan keberangkatan dan kedatangan dialihkan untuk menampilkan jadwal pertandingan.
Bagi Indonesia, pengalaman AS ini memberikan gambaran berharga tentang bagaimana sebuah negara dengan budaya olahraga yang didominasi cabang lain dapat mengadopsi sepak bola sebagai tuan rumah. Model penyelenggaraan multi-kota yang diterapkan AS—dengan masing-masing kota memiliki karakter dan tingkat penerimaan berbeda—menjadi studi kasus yang relevan jika Indonesia kelak berniat menjadi tuan rumah ajang serupa. Keberhasilan melibatkan komunitas diaspora juga menjadi pelajaran penting: di AS, para imigran dan keturunan mereka menjadi tulang punggung atmosfer stadion, membawa warna, lagu, dan tradisi dari tanah leluhur.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah euforia ini bertahan jika timnas AS tersingkir lebih awal? Alex Howell, koresponden BBC, mengingatkan bahwa atmosfer di Kansas City sangat bergantung pada performa tim tuan rumah. "Akan menarik untuk melihat apakah atmosfer berubah jika mereka tersingkir," katanya. Sementara itu, Ian Dennis menambahkan bahwa meski ada kegembiraan menjelang kick-off, beberapa pertandingan yang diliputnya masih kekurangan nyanyian berkelanjutan. "Argentina di babak gugur seharusnya bisa mengubah itu!" ujarnya optimistis.



