DR Congo vs Inggris: Strategi Man-to-Man yang Bisa Jadi Bumerang
Baca dalam 60 detik
- DR Congo mengandalkan formasi 5-3-2 dengan pressing tinggi, tetapi pola man-to-man mereka rentan terhadap umpan panjang dan pergerakan lebar Inggris.
- Thomas Tuchel diprediksi akan memanfaatkan kelemahan sayap DR Congo melalui rotasi 'wide units' dan instruksi 'short-short-long switch'.
- Ancaman utama DR Congo datang dari Yoane Wissa yang tajam di kotak penalti, namun Inggris memiliki keunggulan pengalaman menghadapi pressing ketat di Premier League.

Di babak gugur turnamen besar, tidak ada lawan yang bisa dianggap remeh—seperti yang dibuktikan Jerman saat tersingkir oleh Paraguay. Kini, Inggris yang diasuh Thomas Tuchel harus mewaspadai DR Congo, tim yang hanya menguasai bola 38,8% sepanjang turnamen, namun memiliki cara bermain yang tidak biasa: mereka justru melakukan pressing tinggi meski jarang memegang bola.
DR Congo tampil dengan formasi 5-3-2 yang konsisten, baik saat menyerang maupun bertahan. Dalam dua laga melawan Portugal dan Kolombia, mereka menerapkan tekanan sejak situasi tendangan gawang lawan. Garis pertahanan mereka cenderung tinggi, tidak seperti tim berposesi rendah pada umumnya yang memilih bertahan di kotak sendiri. Namun, pendekatan agresif ini menyisakan celah yang bisa dieksploitasi Inggris.
Salah satu kelemahan utama DR Congo adalah pola man-to-man di seluruh lini. Saat menghadapi umpan panjang, tiga bek tengah mereka harus berhadapan langsung dengan tiga penyerang lawan. Inggris, yang terbiasa menghadapi pressing tinggi di Premier League, diprediksi akan memanfaatkan situasi ini. Tuchel dikenal gemar membangun serangan dengan menarik tekanan lawan sebelum melepas umpan terobosan ke ruang kosong—strategi yang disebut asisten pelatih Anthony Barry sebagai "accelerating through the middle third".
Dalam pertandingan melawan Kroasia, Inggris sukses menggunakan pola Declan Rice yang melebar untuk membuka ruang bagi Harry Kane turun ke dalam. Pola serupa bisa diterapkan untuk melawan DR Congo. Selain itu, instruksi Tuchel saat melawan Ghana—"short, short, short, then a long switch"—kemungkinan akan diulang. Dengan hanya tiga gelandang tengah, DR Congo mudah ditarik ke satu sisi, meninggalkan ruang di sisi berlawanan yang bisa dimanfaatkan pemain sayap Inggris seperti Marcus Rashford atau Anthony Gordon.
Namun, DR Congo juga memiliki ancaman. Dalam membangun serangan dari belakang, mereka menggunakan formasi tiga bek yang melebar hingga membentuk empat bek bersama kiper. Gelandang bertahan duduk di depan, sementara dua gelandang dan dua penyerang bergerak bebas untuk memenangkan bola kedua. Meskipun risiko passing lebih tinggi, pendekatan ini menyulitkan lawan untuk melakukan pressing secara kompak karena jarak antar pemain yang besar. Portugal sempat sukses merebut bola di lini tengah, tetapi Inggris harus tetap waspada terhadap transisi cepat DR Congo.
Bagi Indonesia, pertandingan ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana tim dengan penguasaan bola rendah tetap bisa kompetitif melalui pressing terorganisir dan transisi cepat. Gaya bermain DR Congo yang berani menekan tinggi meski minim bola menunjukkan bahwa strategi bertahan tidak selalu berarti pasif. Di sisi lain, pendekatan Tuchel yang sabar dalam membangun serangan dan memanfaatkan kelemahan lawan bisa menjadi referensi bagi pelatih di Liga Indonesia yang kerap menghadapi tim bertahan rapat.
Pertanyaan besarnya: akankah DR Congo mengubah pendekatan mereka melawan Inggris, atau tetap bertahan dengan pola yang sama? Jika mereka tetap bermain tinggi, Inggris memiliki semua alat untuk menghukum mereka melalui umpan panjang dan pergerakan sayap. Namun, jika DR Congo memilih bertahan lebih dalam, Tuchel harus mencari cara lain untuk membongkar pertahanan yang rapat. Satu hal yang pasti: laga ini akan menjadi ujian taktik yang menarik.



