Harry Styles Nyanyikan Three Lions di Wembley, David Baddiel: Royalti Saya Hapus Saja
Baca dalam 60 detik
- David Baddiel secara bercanda melepas royalti lagu Three Lions setelah Harry Styles membawakan ulang lagu tersebut dalam konser residensi di Wembley.
- Momen ini terjadi di tengah gelaran Piala Dunia 2026, memperkuat hubungan emosional antara musik populer dan sepak bola Inggris.
- Bagi penggemar Indonesia, fenomena ini menunjukkan bagaimana ikon budaya global bisa merayakan warisan olahraga lintas generasi.

David Baddiel, komedian dan salah satu pencipta lagu Three Lions, secara jenaka menyatakan rela melepas royalti setelah Harry Styles membawakan lagu tersebut dalam konser residensinya di Stadion Wembley, London. Melalui unggahan di platform X, Baddiel menulis, "Happy to waive the royalties for Harry Styles," sembari membagikan video penampilan sang penyanyi.
Dalam konser yang merupakan bagian dari tur Together, Together itu, Harry Styles menggabungkan lagu Three Lions—antem sepak bola Inggris yang legendaris dari tahun 1996—dengan remix lagu Born Slippy milik Underworld. Aksi ini terjadi di tengah perhelatan Piala Dunia 2026, yang membuat momen tersebut semakin relevan bagi para penggemar sepak bola dan musik.
Bagi publik Indonesia, kolaborasi tidak langsung antara Baddiel dan Styles ini menyoroti bagaimana budaya populer global bisa merayakan warisan olahraga lintas generasi. Three Lions sendiri bukan hanya lagu kebangsaan tidak resmi Inggris, tetapi juga simbol nostalgia yang kerap diputar di berbagai acara olahraga di seluruh dunia, termasuk di Indonesia saat nonton bareng pertandingan Premier League atau Piala Dunia.
Di sisi lain, Harry Styles juga baru saja menjalani penampilan istimewa di festival Meltdown, di mana ia tampil bersama Jules Buckley Orchestra di Royal Festival Hall. Dalam konser amal tersebut, ia mengaku bahwa momen itu terasa seperti "puncak karier" baginya. "Saya merasa sangat sadar bahwa Anda sedang berada di tengah-tengah sorotan karier saya," ujar Styles kepada penonton.
Menariknya, Styles juga melontarkan candaan tentang tidak adanya adegan "puting" dalam tur kali ini, merujuk pada kebiasaannya tampil tanpa atasan di konser sebelumnya. Penampilan orkestra yang lebih kalem menjadi kontras dengan pertunjukan stadion berenergi tinggi yang biasa ia lakukan. Puncak acara adalah cover lagu Bridge Over Troubled Water yang mendapatkan standing ovation panjang dari seluruh aula.
Bagi penggemar di Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pengingat bahwa musik dan sepak bola adalah dua hal yang saling menguatkan. Lagu Three Lions, misalnya, sering diputar di kafe-kafe atau acara komunitas sepak bola di Tanah Air. Keterlibatan figur sebesar Harry Styles dalam membawakan lagu tersebut semakin memperkuat daya tarik lintas budaya.
Ke depan, apakah akan ada lebih banyak kolaborasi serupa antara musisi global dan lagu-lagu olahraga klasik? Atau justru sebaliknya, lagu-lagu tersebut akan terus dihidupkan kembali oleh generasi baru? Yang jelas, momen ini menunjukkan bahwa warisan budaya, baik musik maupun olahraga, tidak pernah benar-benar pudar—ia hanya menunggu untuk dinyanyikan ulang.



