BSI Targetkan Masuk Jajaran Bank Jumbo RI Sebelum 2030: Modal Inti Rp70 Triliun Jadi Syarat
Baca dalam 60 detik
- PT Bank Syariah Indonesia menargetkan peningkatan modal inti menjadi minimal Rp70 triliun dalam 2-3 tahun ke depan untuk masuk kategori bank jumbo KBMI 4.
- Selain permodalan, perseroan juga berupaya memenuhi aturan free float 15% tahun ini dengan berkoordinasi bersama pemegang saham utama.
- Langkah ekspansi ini sejalan dengan ambisi BSI menjadi lima besar bank syariah global berdasarkan kapitalisasi pasar pada 2030.

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) menegaskan ambisinya untuk menyandang status bank jumbo dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Langkah itu ditempuh dengan mengejar kenaikan kelas ke Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4, yang mensyaratkan modal inti minimum sebesar Rp70 triliun. Saat ini, posisi modal inti BSI masih berkisar Rp50-51 triliun, setara dengan bank BUMN lainnya yang berada di KBMI 3.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan bahwa target tersebut merupakan bagian dari peta jalan perseroan menuju 2030. Pada tahun tersebut, BSI membidik posisi sebagai salah satu dari lima bank syariah dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Selain itu, perseroan juga menargetkan jumlah nasabah mencapai 40 juta, total aset Rp1.000 triliun, serta return on equity (ROE) sebesar 25%.
โKBMI 4 memang kita melihat bahwa ini sebuah keharusan, karena kita sudah sama dengan [bank BUMN] lainnya, kita KBMI 3. Sekarang modal inti kita Rp50 triliun atau Rp51 triliun,โ ujar Anggoro dalam acara Ngopi Bareng Media Akselerasi Transformasi Digital BSI, Rabu (1/6/2026).
Untuk mencapai peningkatan modal inti tersebut, BSI masih menjajaki sejumlah opsi. Anggoro enggan merinci apakah akan ditempuh melalui merger atau penambahan modal secara organik. โKita masih eksplorasi beberapa hal, karena organik pun juga masih bisa,โ katanya. Saat ini, hanya empat bank di Indonesia yang tercatat sebagai bank KBMI 4, sehingga langkah BSI akan mengubah peta persaingan perbankan nasional.
Selain permodalan, BSI juga menghadapi tantangan pemenuhan ketentuan free float saham minimum 15% yang harus dipenuhi tahun depan. Hingga saat ini, porsi free float BRIS masih sekitar 9,91%. Anggoro menyatakan perseroan akan berupaya maksimal untuk melampaui ambang batas tersebut pada tahun ini. Koordinasi dengan pemegang saham utamaโBNI, BRI, Bank Mandiri, serta Danantara selaku pengendali sahamโtelah dilakukan untuk membahas skema pelaksanaannya.
Bagi investor dan pelaku pasar, langkah BSI menuju KBMI 4 menjadi sinyal positif atas prospek pertumbuhan bank syariah terbesar di Indonesia. Kenaikan peringkat ini berpotensi meningkatkan kepercayaan investor asing dan domestik, serta memperkuat posisi BSI dalam persaingan dengan bank konvensional jumbo. Namun, realisasi target free float dan strategi peningkatan modal inti masih menjadi variabel yang perlu dicermati.
Ke depan, keberhasilan BSI masuk KBMI 4 tidak hanya bergantung pada kemampuan internal, tetapi juga dukungan regulasi dan pemegang saham. Pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah BSI akan memilih jalur merger atau mengandalkan pertumbuhan organik untuk mencapai modal inti Rp70 triliun? Jawabannya akan menentukan arah ekspansi dan daya saing bank syariah nasional di kancah global.



