Karma di Piala Dunia 2026: Balasan Media Italia untuk Mertesacker Usai Jerman Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Mantan bek Jerman Per Mertesacker meremehkan Italia sebagai tim tanpa pemain kelas dunia, memicu kemarahan media Italia.
- Hanya beberapa hari setelah pernyataan itu, Jerman tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 oleh Paraguay melalui adu penalti.
- Jurnalis La Gazzetta dello Sport mengecam Mertesacker dan menyebut kekalahan Jerman sebagai karma atas komentar pedasnya.

Komentar pedas Per Mertesacker tentang tim nasional Italia berbalik menghantuinya. Hanya beberapa hari setelah mantan bek Arsenal itu meremehkan kualitas skuad Italia, Jerman justru tersingkir secara mengejutkan dari Piala Dunia 2026 di tangan Paraguay. Media Italia pun bereaksi cepat, menyebut kekalahan tersebut sebagai karma yang setimpal.
Semua bermula saat Mertesacker dan Christoph Kramer menjadi panelis di stasiun televisi Jerman ZDF. Dalam diskusi tentang absennya Italia di Piala Dunia 2026, Mertesacker dengan tegas menyatakan bahwa Italia tidak layak dibicarakan. "Sama sekali tidak, mereka tidak pantas untuk dibahas," ujarnya. Ia menambahkan bahwa tim Italia saat ini jauh berbeda dengan skuad kelas dunia yang mengalahkan Jerman di semifinal Piala Dunia 2006. "Dua puluh tahun kemudian, Anda harus mencari keras-keras untuk menemukan pemain kelas dunia," sindirnya.
Pernyataan itu sontak memicu reaksi keras di Italia. Luigi Garlando, jurnalis La Gazzetta dello Sport, menulis kolom tajam yang mengkritik Mertesacker. Garlando menyebut komentar tersebut "rendahan" dan "naif", serta mengingatkan bahwa luka kekalahan semifinal 2006 masih terasa bagi Jerman. Ia juga mengungkit kembali kampanye media Jerman pada 2006 yang menyebut Italia sebagai "parasit" dan memuat foto-foto ejekan pemain Italia berlatih di atas pizza.
Garlando menegaskan bahwa Italia tetap dikenang karena statusnya sebagai empat kali juara dunia. "Sebuah tim nasional yang telah memenangkan empat Piala Dunia tidak bisa dihapus begitu saja," tulisnya. Ia juga menyindir bahwa Mertesacker seharusnya lebih berhati-hati sebelum meremehkan negara dengan tradisi sepak bola sekaya Italia.
Kekalahan Jerman dari Paraguay di babak 32 besar menjadi kejutan besar. Sebagai salah satu favorit turnamen, Jerman tampil dominan sepanjang pertandingan namun gagal memanfaatkan peluang. Adu penalti menjadi akhir yang pahit, mengingatkan pada kegagalan serupa di masa lalu. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, momen ini menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, tidak ada jaminan kemenangan meski dengan sejarah gemilang sekalipun.
Menjelang peringatan 20 tahun semifinal 2006 pada 4 Juli mendatang, Garlando mengusulkan agar Jerman dan Italia mengadakan pesta pizza bersama untuk merayakan pertandingan bersejarah itu. Ironisnya, tanggal tersebut juga bertepatan dengan laga Paraguay melawan Prancis di babak 16 besar—pertandingan yang seharusnya bisa diikuti Jerman jika tidak tersingkir lebih awal.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah komentar Mertesacker benar-benar menjadi pemicu karma, ataukah ini sekadar kebetulan belaka? Yang jelas, perseteruan media antara dua negara raksasa sepak bola ini kembali memanas, dan Mertesacker menjadi pusat perhatian—bukan karena prestasi, melainkan karena ucapannya yang berbalik menyerang dirinya sendiri.



