Piala Dunia 2026: Penyesalan Tanaka, Ambisi Suzuki, dan Masa Depan Kamada
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Jepang Ao Tanaka menyesali kesalahan yang berujung gol kemenangan Brasil di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
- Kiper Zion Suzuki ingin pindah ke klub Eropa top setelah penampilan gemilang, sementara Daichi Kamada memprioritaskan bertahan di Crystal Palace.
- Daichi Kamada memuji pelatih Hajime Moriyasu sebagai yang terbaik bagi Jepang, namun menekankan perlunya hasil untuk menarik minat publik non-penggemar sepak bola.

Gelandang timnas Jepang, Ao Tanaka, memikul beban berat setelah kesalahan fatalnya di menit akhir menyebabkan kekalahan 2-1 dari Brasil pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Insiden di Houston Stadium, Senin (1/7) itu memupus harapan Samurai Biru untuk melaju lebih jauh, sekaligus meninggalkan luka mendalam bagi pemain yang empat tahun lalu menjadi pahlawan kemenangan atas Spanyol.
Tanaka, yang merebut bola di tepi kotak penalti sendiri pada masa injury time babak kedua, justru memberikan umpan pendek yang direbut kembali pemain Brasil. Gabriel Martinelli dengan dingin menuntaskan peluang menjadi gol penentu. “Frustrasi dan penyesalan terus menghantui. Kemampuan saya memang kurang,” ujar Tanaka, yang sebelumnya tampil impresif melawan Tunisia dan Swedia di turnamen ini. Ia mengaku bertanggung jaw penuh atas kebobolan di fase krusial tersebut dan bertekad menebus kegagalan ini di Piala Dunia mendatang.
Sementara itu, kiper Zion Suzuki tampil sebagai salah satu pemain terbaik Jepang sepanjang turnamen. Penyelamatan gemilangnya terhadap tembakan Vinicius Jr. yang membentur tiang gawang pada babak kedua menjadi sorotan. Suzuki, yang kini membela Parma di Serie A Italia, mengaku mendapat inspirasi dari percakapannya dengan kiper Brasil, Alisson Becker. “Dulu dia bermain di level yang tak terbayangkan bagi saya. Sekarang dia berbicara kepada saya, itu menunjukkan saya melangkah maju,” kata Suzuki. Ia mengisyaratkan keinginan pindah ke klub Eropa yang lebih kompetitif untuk terus berkembang.
Di sisi lain, gelandang serang Daichi Kamada memberikan kejelasan soal masa depannya. Kontraknya dengan Crystal Palace berakhir tepat pada hari pertandingan, namun Kamada menegaskan prioritasnya adalah bertahan di klub Premier League tersebut. “Saya ingin tetap di Palace. Jujur, tidak ada klub yang lebih saya prioritaskan selain klub-klub top,” ujarnya. Kamada menilai bermain di Premier League dan kompetisi Eropa bersama Palace hampir sama berartinya dengan mengejar Liga Champions. Ia juga menyebut kehidupan keluarganya yang sudah mapan di London sebagai faktor penentu.
Kamada juga memberikan pujian setinggi langit kepada pelatih Hajime Moriyasu, yang masa depannya masih belum pasti. “Dia tanpa ragu adalah manajer terbaik yang pernah dimiliki Jepang. Sulit mencari yang lebih baik darinya,” kata Kamada. Ia mengaku berterima kasih atas kepercayaan Moriyasu yang memberinya kesempatan tampil di dua Piala Dunia. Namun, Kamada mengingatkan bahwa tim harus memberikan hasil nyata agar masyarakat non-penggemar sepak bola juga ikut bangga.
Bagi Indonesia, perjalanan Jepang di Piala Dunia 2026 menjadi cermin bagaimana sebuah tim Asia bisa bersaing di level tertinggi. Kesalahan individu seperti yang dialami Tanaka mengingatkan pentingnya ketenangan dalam tekanan, sementara ambisi Suzuki dan Kamada menunjukkan betapa kompetitifnya pemain Asia di kancah global. Dengan persiapan menuju Piala Dunia 2030 yang kemungkinan besar diikuti Indonesia, pelajaran dari kegagalan dan keberhasilan Jepang bisa menjadi bahan evaluasi berharga.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah Moriyasu tetap memimpin Jepang menuju Piala Dunia berikutnya? Mampukah Tanaka bangkit dari keterpurukan? Dan akankah Suzuki serta Kamada mewujudkan ambisi mereka di klub-klub Eropa? Jawabannya hanya akan terjawab seiring berjalannya waktu dan kompetisi.



