Belgium Waspadai Kejutan Senegal di Babak 32 Besar: Favorit Bukan Jaminan
Baca dalam 60 detik
- Timnas Belgia akan menghadapi Senegal pada laga 32 besar Piala Dunia dengan skuat penuh, namun pelatih Rudy Garcia mengingatkan status favorit tidak menjamin kemenangan.
- Setelah melalui fase grup yang berat, Belgia kini memiliki semua pemain fit, termasuk Zeno Debast yang pulih dari cedera, memberikan opsi lebih di bangku cadangan.
- Kekalahan Jerman dan Belanda di babak gugur menjadi pengingat bahwa kejutan selalu mungkin terjadi, dan Garcia menilai Senegal jauh lebih kuat dari peringkat ketiga grup mereka.

Pelatih Timnas Belgia, Rudy Garcia, menegaskan bahwa status favorit tidak otomatis membawa kemenangan saat timnya bersua Senegal pada babak 32 besar Piala Dunia, Rabu (30/6). Meski datang dengan momentum positif dan skuat lengkap, Garcia mengingatkan bahwa turnamen ini penuh kejutan, seperti yang dibuktikan oleh gugurnya Jerman dan Belanda di fase yang sama.
Belgia lolos sebagai juara Grup G setelah mengalahkan Selandia Baru 5-1 pada laga pamungkas, setelah dua hasil imbang sebelumnya melawan Mesir dan Iran. Kemenangan telak itu membuat mereka tetap bermarkas di Seattle, kota yang menjadi basis mereka selama turnamen. Kini, dengan seluruh pemain fit untuk pertama kalinya di Piala Dunia ini, Garcia memiliki banyak opsi, termasuk pemain sayap Jeremy Doku yang sempat absen karena kelahiran anaknya dan sakit ringan, serta bek Zeno Debast yang pulih dari cedera kaki.
Debast, yang cedera saat latihan bersama klubnya Sporting Lisbon, kemungkinan tidak akan menjadi starter. "Dia butuh waktu untuk kembali ke kapasitas penuh," ujar Garcia dalam konferensi pers, Selasa (29/6). Meski demikian, Garcia optimistis lini pertahanan Belgia yang hanya kebobolan dua gol sepanjang fase grup tetap solid. "Sejak awal kompetisi, kami menunjukkan pertahanan yang sangat kuat," tegasnya.
Kondisi cuaca di Seattle yang diperkirakan sejuk dan mendung juga menguntungkan Belgia, berbeda dengan panas ekstrem saat melawan Mesir yang membuat Garcia mengeluhkan rumput kering. Namun, Garcia tidak meremehkan Senegal, yang lolos sebagai peringkat ketiga Grup C setelah menghadapi lawan berat seperti Prancis, Norwegia, dan Irak. "Mereka sangat cepat, kuat, teknis, dan terorganisir dengan baik secara defensif," kata Garcia. Ia menambahkan bahwa performa Senegal di fase grup tidak mencerminkan kekuatan sesungguhnya.
Pertandingan ini juga memiliki nuansa personal bagi Garcia, yang pernah bekerja sama dengan pelatih Senegal, Pape Thiaw, di Saint-Etienne. Garcia mengenang masa-masa membantu Thiaw saat masih menjadi pemain muda. "Dia pemain dan pelatih yang hebat. Saya sangat senang untuknya, tapi saya akan mengalahkannya," ujar Garcia dengan nada percaya diri.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik karena menunjukkan bagaimana tim unggulan seperti Belgia harus tetap waspada terhadap lawan yang dianggap lebih lemah. Pelajaran dari kegagalan Jerman dan Belanda menjadi pengingat bahwa di Piala Dunia, tidak ada lawan yang mudah. Pertanyaan besarnya: akankah Belgia mampu menghindari jebakan dan melaju ke babak 16 besar, atau justru Senegal yang akan menulis cerita kejutan baru?



