Nacon Jual Waralaba Blood Bowl ke Slitherine di Tengah Krisis Keuangan
Baca dalam 60 detik
- Nacon melepas hak kekayaan intelektual Blood Bowl ke Slitherine Software sebagai bagian dari strategi penyelamatan finansial.
- Waralaba game fantasi sepak bola Amerika ini akan tetap dikembangkan oleh Cyanide Studios di bawah naungan Slitherine.
- Langkah ini menandai gelombang konsolidasi di industri game global yang berpotensi memengaruhi ketersediaan judul di pasar Indonesia.

Penerbit asal Prancis, Nacon, kembali melepas salah satu aset berharganya di tengah upaya bertahan dari jeratan krisis keuangan. Kali ini, hak kekayaan intelektual (IP) Blood Bowl—seri game fantasi sepak bola Amerika yang berlatar dunia Warhammer—resmi berpindah tangan ke Slitherine Software, pengembang game strategi asal Inggris.
Langkah ini menjadi babak baru bagi waralaba yang telah lama menjadi favorit komunitas gamer, khususnya penggemar perpaduan olahraga dan fantasi. Sebelumnya, Nacon telah berupaya menjual sejumlah studio dan lisensi untuk menambal lubang keuangan. Sayangnya, upaya mencari pembeli untuk studio Spiders—pengembang franchise Greedfall—gagal, sehingga studio tersebut terpaksa ditutup.
Keputusan Nacon melepas Blood Bowl bukanlah kejutan. Sejak awal tahun, perusahaan yang berbasis di Lesquin itu telah mengumumkan program restrukturisasi besar-besaran, termasuk penjualan aset non-inti. Blood Bowl, meskipun memiliki basis penggemar setia, dianggap tidak lagi sejalan dengan strategi jangka panjang Nacon yang ingin fokus pada judul-judul dengan potensi pendapatan lebih stabil.
Bagi Slitherine, akuisisi ini memperkuat portofolio mereka di genre strategi dan taktik. Perusahaan yang berbasis di Milton Keynes itu telah lama mengembangkan game berbasis lisensi Warhammer, termasuk Warhammer 40,000: Battlesector dan Battlefleet Gothic: Armada. Dengan bertambahnya Blood Bowl, Slitherine kini memiliki tiga waralaba utama dari semesta Warhammer, memperkuat posisinya sebagai salah satu penerbit game strategi terdepan di Eropa.
Yang menarik, Slitherine menegaskan bahwa Cyanide Studios—pengembang asli Blood Bowl—akan tetap memegang kendali pengembangan. Dalam pernyataan resmi, Slitherine berjanji akan "terus mendukung dan memperluas game video Blood Bowl secara aktif, dengan fokus kuat pada umpan balik komunitas, pengembangan jangka panjang, dan keterlibatan pemain yang berkelanjutan." Ini menjadi angin segar bagi para penggemar yang khawatir akan masa depan seri tersebut di tengah gejolak Nacon.
Di Indonesia, meskipun Blood Bowl bukanlah judul sepopuler FIFA atau eFootball, komunitas penggemar game strategi dan Warhammer cukup aktif. Beberapa turnamen lokal sempat digelar, dan forum-forum diskusi seperti Kaskus dan grup Facebook masih ramai membahas taktik dan mod. Namun, akses terhadap game ini kerap terhambat oleh harga yang relatif tinggi dan minimnya dukungan bahasa Indonesia. Dengan kepemilikan baru, ada harapan bahwa Slitherine akan lebih agresif dalam memasarkan game ini ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Slitherine akan menyeimbangkan pengembangan Blood Bowl dengan judul-judul strategi lainnya. Apakah mereka akan merilis konten tambahan secara berkala atau justru mengarahkan ulang waralaba ini ke platform mobile yang lebih masif? Yang jelas, langkah Nacon melepas Blood Bowl menjadi pengingat bahwa industri game global tengah memasuki fase konsolidasi, di mana hanya penerbit dengan fundamental kuat yang mampu bertahan.



