Robert Pattinson: Syuting The Odyssey Terasa Seperti Direkam SUV Raksasa
Baca dalam 60 detik
- Film The Odyssey menjadi produksi pertama yang seluruhnya menggunakan kamera IMAX film, memaksa aktor beradaptasi dengan ukuran alat berat.
- Robert Pattinson mengaku terkejut dengan kecepatan kamera IMAX yang justru lebih lincah dibanding ponsel, meski ukurannya besar.
- Christopher Nolan mewujudkan mimpi sejak remaja dengan The Odyssey, sebuah adaptasi epik yang syutingnya disebut 'mimpi buruk yang menyenangkan'.

Robert Pattinson mengibaratkan pengalaman syuting film The Odyssey seperti sedang direkam oleh sebuah SUV—bukan karena kecepatan, melainkan ukuran kamera IMAX yang luar biasa besar. Film garapan Christopher Nolan ini tercatat sebagai produksi pertama dalam sejarah yang sepenuhnya menggunakan kamera film IMAX, sebuah tantangan teknis yang langsung dirasakan para pemain.
Dalam cuplikan di balik layar yang diunggah akun resmi IMAX, Pattinson mengaku butuh waktu untuk membiasakan diri dengan dimensi kamera yang tidak lazim. Namun, ia justru terkesima dengan performa alat tersebut. "Meskipun ukurannya besar, Anda mengira mesin ini akan bergerak lambat, tapi ternyata lebih cepat daripada merekam dengan iPhone," ujarnya. Pernyataan ini mematahkan asumsi umum bahwa peralatan besar identik dengan gerakan lambat dan kaku.
Bagi Nolan, proyek ini adalah impian yang sudah dipendam sejak usia 16 tahun. Selama ini, kendala utama yang menghalangi adalah masalah kebisingan kamera IMAX generasi lama. Kini, dengan teknologi yang lebih mumpuni, sang sutradara akhirnya bisa mewujudkan ambisinya. "Ini adalah mimpi yang sudah lama tertunda, akhirnya menjadi kenyataan," kata Nolan dalam wawancara yang sama.
Nolan mendeskripsikan proses produksi The Odyssey sebagai "mimpi buruk yang menyenangkan". Syuting dilakukan di medan ekstrem—dari perahu di laut, gunung, gua, hingga terik matahari dan hujan deras. Matt Damon, yang memerankan tokoh utama, mendapat pujian khusus dari Nolan sebagai "mitra dalam perjalanan ini". Sang sutradara menekankan bahwa kesulitan itu memang disengaja, sesuai dengan semangat epik Homer yang berusia 3.000 tahun.
Bagi penonton Indonesia, The Odyssey menawarkan tontonan spektakuler yang jarang terjadi: film epik mitologi dengan teknologi IMAX murni. Dengan popularitas Nolan pasca-Oppenheimer, film ini diprediksi menjadi salah satu rilisan paling dinanti tahun depan. Pertanyaan besarnya, mampukah The Odyssey menyamai kesuksesan box office pendahulunya dan membawa pulang penghargaan bergengsi?



