Ribuan Pendukung Sara Duterte Kembali Banjiri Manila, Kemacetan Meluas
Baca dalam 60 detik
- Kelompok gereja yang berpengaruh di Filipina menggelar aksi unjuk rasa hari kedua di Manila, mendukung senator sekutu Wakil Presiden Sara Duterte yang terancam dakwaan korupsi.
- Jumlah peserta menurun drastis dari 14.000 menjadi 3.000 orang, namun kemacetan di jalan utama ibu kota masih parah akibat pemblokiran bus oleh pengunjuk rasa.
- Aksi ini memperkeruh ketegangan politik antara Presiden Ferdinand Marcos Jr. dan Sara Duterte menjelang sidang impeachment Duterte, meningkatkan risiko bagi ekonomi Filipina yang tengah dilanda inflasi tinggi.

Manila kembali lumpuh pada Rabu (1/7) saat ribuan pendukung senator yang dekat dengan Wakil Presiden Sara Duterte memadati jalan protokol Ibu Kota Filipina untuk hari kedua berturut-turut. Aksi yang digerakkan oleh kelompok gereja berpengaruh ini tidak hanya menyita perhatian publik, tetapi juga memperdalam jurang politik antara kubu Presiden Ferdinand Marcos Jr. dan mantan sekutunya yang kini berseberangan.
Sejak pagi, sekitar 3.000 orang—turun drastis dari 14.000 peserta pada hari sebelumnya—berkumpul di Monumen People Power, salah satu titik simbolis demokrasi Filipina. Mereka mengenakan kaus putih sebagai tanda solidaritas terhadap Senator Rodante Marcoleta, yang pekan ini menghadapi ancaman dakwaan penggelapan dana kampanye. Ribuan aparat anti-huru-hara dikerahkan untuk mengantisipasi kericuhan, sementara sejumlah bus sengaja diparkir memblokir akses jalan menuju jalur utama, memperparah kemacetan yang sudah terjadi sejak Selasa.
Ketua Senat Alan Peter Cayetano, yang juga sekutu Duterte, menyampaikan permintaan maaf atas kemacetan yang ditimbulkan. Namun, ia menegaskan bahwa protes memang bertujuan menimbulkan ketidaknyamanan agar publik sadar akan situasi politik yang sedang berlangsung. “Protes memang untuk mengganggu, supaya kita terbangun terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” ujarnya.
Aksi ini menjadi bara baru dalam konflik terbuka antara Marcos Jr. dan Duterte, yang sebelumnya merupakan sekutu politik. Perpecahan itu kian memanaskan panggung politik Filipina yang sedang goyah akibat inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi. Dalam konteks Indonesia, dinamika serupa juga kerap terjadi ketika rivalitas elit berimbas pada stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor. Pengamat menilai bahwa ketidakpastian politik di Filipina bisa menjadi pelajaran bagi negara tetangga untuk mengelola perbedaan internal tanpa mengorbankan kepentingan publik.
Menariknya, Senator Imee Marcos, kakak Presiden Marcos yang justru berada di kubu Duterte, turut hadir dalam aksi Selasa malam. Hal ini menunjukkan bahwa garis politik di Filipina tidak lagi hitam-putih, melainkan dipenuhi kepentingan lintas keluarga dan faksi. Sementara itu, polisi setempat telah mengeluarkan izin untuk aksi hari kedua hingga pukul 20.00 waktu setempat, dengan harapan tidak ada lagi pemblokiran jalan secara sengaja. “Kami berharap tidak akan ada lagi penghadangan jalan oleh kendaraan dan bus untuk menghentikan lalu lintas,” kata Kolonel Allan Rae Co, juru bicara kepolisian.
Presiden Marcos sendiri memilih membatalkan seluruh agenda publiknya untuk memantau langsung situasi. Namun, ia tetap melanjutkan kunjungan kenegaraan ke Kanada pada 1-4 Juli, dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Mark Carney. Pertanyaannya, akankah ketegangan politik ini mereda setelah sidang impeachment Duterte bergulir, atau justru semakin memperlebar celah yang mengancam stabilitas negeri itu?



