Trump Kembali Kecam NATO: Aliansi Dinilai Tidak Seimbang, Ancaman Bagi Stabilitas Global?
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menyebut hubungan dengan NATO sebagai 'tidak timbal balik' dan 'ridiculous' dalam unggahan di Truth Social, menjelang KTT NATO di Ankara.
- Trump mendesak Eropa untuk memikul beban pertahanan sendiri, dengan AS mulai mengurangi komitmen, sementara target belanja pertahanan NATO dinaikkan menjadi 5% PDB pada 2035.
- Sikap Trump berpotensi menggeser arsitektur keamanan global, memicu kekhawatiran di kawasan Indo-Pasifik termasuk Indonesia yang bergantung pada stabilitas yang ditopang NATO.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik pedas terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), menyebut hubungan Washington dengan aliansi militer itu sebagai 'ridiculous' dan 'tidak seimbang'. Dalam unggahan di platform Truth Social pada Kamis (2 Juli), Trump menegaskan bahwa AS tidak lagi bisa mempertahankan dukungan sepihak terhadap NATO, hanya beberapa hari sebelum KTT NATO yang dijadwalkan berlangsung di Ankara, Turki, pada 7-8 Juli.
Trump menulis, 'Mereka tidak ada untuk kita!!!' dan menambahkan bahwa hubungan Washington dengan NATO 'tidak resiprokal'. Unggahan itu juga menyertakan grafik perbandingan belanja pertahanan antarnegara anggota, yang menunjukkan kontribusi AS jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar anggota lainnya. Ini bukan pertama kalinya Trump mengkritik sekutu Eropa; sebelumnya ia kerap mengecam respons mereka terhadap perang di Iran, termasuk pembatasan penggunaan pangkalan militer untuk pasukan AS.
Di bawah tekanan Trump, para pemimpin NATO tahun lalu telah menyepakati target baru untuk meningkatkan belanja pertahanan menjadi 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) masing-masing negara pada tahun 2035. Namun, Trump menganggap target itu belum cukup dan mendesak Eropa untuk mengambil peran utama dalam pertahanan mereka sendiri. Washington, menurutnya, telah mulai mengurangi komitmen militernya di kawasan.
Sikap Trump ini memicu perdebatan tentang masa depan NATO, aliansi yang didirikan pada 1949 dan selama ini menjadi pilar stabilitas Eropa serta proyeksi kekuatan AS. Sejumlah analis menilai bahwa retorika Trump dapat memperlemah kohesi aliansi, terutama di tengah ketegangan dengan Rusia dan ketidakpastian keamanan di Timur Tengah. 'Ini bukan sekadar soal anggaran, tetapi juga soal kredibilitas NATO sebagai payung keamanan kolektif,' ujar seorang pengamat hubungan internasional.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas global yang ditopang oleh keseimbangan kekuatan. Jika NATO melemah atau mengalami pergeseran fokus, hal itu bisa berdampak pada arsitektur keamanan di kawasan Indo-Pasifik, termasuk meningkatnya pengaruh Tiongkok dan Rusia. Selain itu, Indonesia juga perlu mencermati perubahan kebijakan pertahanan AS yang mungkin mengurangi kehadiran militernya di Asia Tenggara.
Ke depan, KTT Ankara akan menjadi ujian bagi solidaritas NATO. Akankah negara-negara anggota menyetujui tuntutan Trump untuk meningkatkan belanja pertahanan secara drastis? Atau justru terjadi perpecahan yang semakin memperlemah aliansi? Jawabannya tidak hanya menentukan masa depan Eropa, tetapi juga peta geopolitik global yang akan mempengaruhi Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.



