Ekspor Pertanian Laos Tembus US$752 Juta dalam Lima Bulan, Capai 62,6% Target Tahunan
Baca dalam 60 detik
- Laos mencatat ekspor tanaman dan produk tanaman senilai US$752 juta pada Januari-Mei 2026, setara 62,6% target setahun penuh.
- Pemerintah Laos fokus pada ketahanan pangan dan perluasan pasar, dengan 84 produk pertanian dan peternakan sudah menembus negara tetangga.
- Sistem monitoring ekspor-impor tengah dibangun untuk mendorong perdagangan berkelanjutan, sejalan dengan adopsi teknologi pertanian modern.

Ekspor tanaman dan produk tanaman Laos pada lima bulan pertama 2026 mencapai US$752 juta, atau 62,6 persen dari target tahunan, menandai langkah signifikan dalam strategi pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan produksi berorientasi ekspor. Angka ini menunjukkan percepatan yang patut dicermati di tengah tekanan global terhadap pasokan pangan.
Kementerian Pertanian dan Lingkungan Laos melaporkan bahwa komoditas utama penyumbang ekspor meliputi pisang, singkong kering, semangka, tepung singkong, dan kopi. Sektor peternakan juga mencatat pertumbuhan dengan nilai ekspor mencapai US$81,21 juta, atau 40,6 persen dari target 2026. Sementara itu, ekspor kayu, produk kayu, dan hasil hutan non-kayu mencapai US$158,64 juta, setara 31,7 persen target.
Pencapaian kunci lainnya adalah perluasan akses pasar. Laos berhasil membuka jalur ekspor untuk 84 jenis produk pertanian dan peternakan ke negara-negara tetangga. Langkah ini menjadi penting karena mengurangi ketergantungan pada satu pasar dan meningkatkan daya tawar petani Laos.
Untuk mendukung ketahanan pangan dan produktivitas, kementerian mendorong perluasan areal tanam musim kemarau, terutama padi, kacang-kacangan, dan sayuran. Pembentukan kelompok tani dan koperasi juga digalakkan dengan adopsi teknologi modern serta praktik pertanian bersih. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memastikan kesesuaian dengan standar ekspor internasional.
Dalam upaya memfasilitasi perdagangan, Laos tengah mengembangkan sistem persetujuan dan pemantauan impor-ekspor produk pertanian. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan mendorong pembangunan pertanian berkelanjutan. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal persaingan di pasar regional semakin ketat. Laos, dengan biaya produksi rendah dan kedekatan geografis dengan China, Thailand, dan Vietnam, berpotensi menjadi pemasok utama komoditas tropis. Indonesia perlu mencermati strategi Laos dalam membuka akses pasar dan adopsi teknologi untuk menjaga daya saing produk pertanian nasional.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana Laos mampu mempertahankan laju ekspor ini di tengah fluktuasi harga komoditas global dan tantangan perubahan iklim. Keberhasilan sistem monitoring yang sedang dibangun akan menjadi kunci transparansi dan keberlanjutan sektor pertanian Laos.



