Rupiah Terperosok ke Rp17.930, Defisit Perdagangan dan Inflasi Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup melemah 0,31% ke Rp17.930 per dolar AS pada Rabu (1/7/2026), mendekati level psikologis Rp18.000.
- Tekanan berasal dari data ekonomi domestik negatif: defisit neraca perdagangan pertama dalam 6 tahun dan inflasi Juni di atas ekspektasi.
- Penguatan dolar AS juga didorong data lowongan kerja yang solid, meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga The Fed.

Nilai tukar rupiah kembali terpuruk ke zona merah pada perdagangan Rabu (1/7/2026), ditutup melemah 0,31% ke posisi Rp17.930 per dolar Amerika Serikat. Tekanan datang dari dalam dan luar negeri: data ekonomi domestik yang mengecewakan berpadu dengan penguatan dolar AS yang kian perkasa.
Sepanjang hari, rupiah nyaris tak berkutik. Dibuka langsung ambles 0,42% ke Rp17.950, bahkan sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.980โhanya selangkah lagi dari batas psikologis Rp18.000. Meski sedikit membaik menjelang penutupan, pelemahan tetap tak terhindarkan. Indeks dolar AS (DXY) pada saat bersamaan menguat 0,16% ke 101,351, menunjukkan dominasi greenback di pasar global.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis dua kabar buruk sekaligus. Pertama, neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit US$1,61 miliarโpertama kalinya dalam enam tahun terakhir, sekaligus memutus rantai surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Defisit ini bahkan menjadi yang terdalam sejak April 2019. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa defisit terutama dipicu oleh sektor migas yang jeblok hingga US$3,76 miliar, dengan kontribusi terbesar dari hasil minyak dan minyak mentah.
Kedua, inflasi Juni 2026 tercatat 0,44% secara bulanan (mtm) dan 3,34% secara tahunan (yoy)โlebih tinggi dari perkiraan pasar yang hanya 0,30% mtm dan 3,2% yoy. Sektor transportasi menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan 2,29%, memberikan andil 0,28%. Data ini menunjukkan tekanan harga yang masih membara di tengah perlambatan ekonomi.
Dari eksternal, dolar AS kian perkasa setelah data lowongan kerja AS pada Mei naik 9.000 menjadi 7,594 juta, melampaui ekspektasi 7,296 juta. Angka ini memperkuat sinyal ketahanan pasar tenaga kerja AS, membuka celah bagi The Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan 25 basis poin pada rapat 28-29 Juli mencapai 33,7%, meski mayoritas masih memperkirakan suku bunga ditahan di 3,50%-3,75%.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, kombinasi defisit perdagangan dan inflasi yang lebih tinggi dari target menjadi sinyal waspada. Bank Indonesia mungkin akan menghadapi dilema: menahan suku bunga demi mendorong pertumbuhan atau menaikkannya untuk menstabilkan rupiah. Sementara itu, dolar AS yang terus menguat bisa membuat rupiah semakin tertekan, terutama jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga bulan ini. Pertanyaan besarnya: akankah Rp18.000 menjadi batas baru yang tak terhindarkan?



