Paul Dano Bergabung dalam Remake Film Horor Kultus Possession
Baca dalam 60 detik
- Aktor Paul Dano dikonfirmasi membintangi remake film horor supernatural Possession bersama Margaret Qualley dan Callum Turner.
- Film garapan sutradara Parker Finn ini akan diproduseri oleh Robert Pattinson dan tim produksi lainnya.
- Remake ini diharapkan menghidupkan kembali cerita ikonik yang membuat Isabelle Adjani meraih penghargaan di Cannes.

Paul Dano, aktor yang dikenal lewat perannya dalam There Will Be Blood dan The Batman, resmi bergabung dalam proyek remake film horor Possession. Ia akan beradu akting dengan Margaret Qualley dan Callum Turner dalam film yang disutradarai oleh Parker Finn, kreator di balik kesuksesan Smile.
Film ini merupakan adaptasi ulang dari film tahun 1981 yang disutradarai Andrzej Żuławski. Versi asli Possession dibintangi Sam Neill dan Isabelle Adjani, yang memerankan seorang istri yang menunjukkan perilaku aneh setelah meminta cerai dari suaminya. Penampilan Adjani dalam film tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Aktris Terbaik di Festival Film Cannes dan menjadikan film itu sebagai salah satu karya horor psikologis paling berpengaruh sepanjang masa.
Menurut laporan Deadline, Dano akan memerankan karakter yang belum diungkapkan. Naskah film ditulis langsung oleh Finn, yang juga duduk sebagai produser bersama Robert Pattinson, Jonathan Fass, Roy Lee, dan Andrew Childs. Proyek ini digarap di bawah bendera Paramount Pictures, menandai langkah besar dalam menghidupkan kembali cerita yang telah menjadi favorit di kalangan penggemar film horor.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Dano mengungkapkan pandangannya tentang akting. Ia menyebut bahwa salah satu hal favoritnya sebagai aktor adalah terus belajar dan melepas kebiasaan lama. “Saya selalu ingin tetap terhubung dengan intuisi saya—bagian dari diri saya yang tidak berpikir,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa persiapan yang lebih matang kini menjadi kunci untuk menjaga rasa ingin tahu tetap hidup.
Dano juga menekankan pentingnya menjadi pribadi yang baik di industri Hollywood. “Saya suka kolaborasi dan berteman. Sebagian besar dari kita adalah orang yang sensitif, jadi saya mencoba menemukan empati untuk karakter saya, entah mereka ‘baik’ atau ‘jahat’,” jelasnya. Ia mencontohkan perannya sebagai Riddler di The Batman, yang menurutnya memiliki sudut pandang subjektif sendiri. “Selalu ada bagian dari diri Anda dalam setiap karakter, suka atau tidak. Jadi Anda harus bertanya: bagian mana dari diri Anda yang bekerja, dan mengapa Anda mengobarkan api itu?”
Ketika ditanya apa yang akan ia katakan kepada dirinya yang berusia 10 tahun, Dano menjawab bahwa ia seharusnya “lebih bersenang-senang”. Ia mengaku mulai bekerja sejak muda dan merupakan anak yang cukup serius. “Ada kutipan bagus dari Aldous Huxley: ‘Gelap karena kau berusaha terlalu keras. Ringanlah, Nak, ringanlah. Belajarlah melakukan segalanya dengan ringan.’” Ia merasa kini lebih mampu menikmati pekerjaan dan hidupnya dibandingkan 20 tahun lalu. “Jadi saya akan berkata: ‘Bersenang-senanglah lebih banyak saat berusia 10 tahun. Main basket lebih banyak. Main di bandmu. Pergilah bersama teman-temanmu.’”
Bagi penonton Indonesia, remake Possession menjadi angin segar di tengah maraknya film horor lokal yang mengangkat tema mistis. Film horor psikologis seperti ini jarang mendapat sorotan di bioskop Tanah Air, namun kehadiran nama-nama besar seperti Dano dan Qualley bisa menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi, kesuksesan Smile yang juga bergenre horor psikologis membuktikan bahwa pasar Indonesia mulai terbuka terhadap variasi horor non-jump scare.
Remake ini diprediksi akan membawa pendekatan modern terhadap cerita klasik, dengan sentuhan khas Finn yang berhasil menciptakan atmosfer mencekam di Smile. Pertanyaannya, mampukah film ini menyaingi pamor versi asli yang telah menjadi ikon horor? Atau justru akan lahir sebagai karya baru yang berdiri sendiri?



