Menjelang Peluncuran GTA VI, Karyawan Rockstar Games Bergerak Membentuk Serikat Pekerja
Baca dalam 60 detik
- Karyawan Rockstar Games berupaya mendapatkan pengakuan resmi serikat pekerja menjelang perilisan GTA VI pada November 2025.
- Langkah ini dipicu oleh pemutusan hubungan kerja terhadap 30 karyawan di Inggris dan Kanada yang dituduh membocorkan informasi rahasia.
- Jika tuntutan tidak dipenuhi, karyawan mengancam akan melakukan mogok kerja yang berpotensi menunda perilisan game paling dinanti tahun ini.

Ketegangan di internal Rockstar Games semakin memuncak menjelang perilisan Grand Theft Auto VI yang dijadwalkan pada 19 November 2025. Alih-alih fokus pada penyelesaian gim, para karyawan justru sibuk memperjuangkan hak mereka untuk berserikat. Langkah ini diambil setelah gelombang pemecatan yang menimpa puluhan pekerja di kantor Inggris dan Kanada pada Oktober lalu.
Menurut laporan The Guardian yang dikutip oleh berbagai media, sekitar 30 karyawan di dua negara tersebut dipecat dengan tuduhan "pelanggaran serius" berupa pembocoran informasi rahasia perusahaan ke publik. Namun, para pekerja yang terkena PHK membantah tuduhan itu dan menyebutnya sebagai "pelanggaran kebebasan berserikat". Mereka menilai tindakan Rockstar merupakan upaya untuk mengintimidasi pekerja yang ingin membentuk serikat.
Konflik ini memicu gelombang solidaritas di kalangan pengembang Rockstar. Kini, para pekerja secara terbuka mendorong pengakuan resmi atas serikat pekerja yang telah mereka bentuk. Tujuannya jelas: melindungi diri dari kemungkinan PHK massal setelah GTA VI dirilis. Sejarah mencatat, setelah perilisan gim besar, studio sering kali melakukan restrukturisasi yang berujung pada pemangkasan tenaga kerja.
Langkah mogok kerja pun menjadi opsi yang dipertimbangkan. Jika Rockstar menolak mengakui serikat, para pengembang siap menghentikan aktivitas produksi. Aksi ini tentu berpotensi mengganggu jadwal rilis GTA VI yang sudah ditunggu-tunggu. Bagi Rockstar, tekanan ini datang di saat yang paling tidak tepat, mengingat gim tersebut merupakan proyek paling ambisius dalam sejarah perusahaan.
Fenomena unionisasi di industri gim sebenarnya bukan hal baru. Di Amerika Serikat dan Eropa, beberapa studio besar seperti Activision Blizzard dan Sega of America telah menghadapi tuntutan serupa. Namun, Rockstar dikenal sebagai perusahaan yang keras terhadap upaya pembentukan serikat. Kasus PHK Oktober lalu menjadi bukti bahwa perusahaan tidak segan mengambil tindakan tegas terhadap karyawan yang dianggap mengancam stabilitas internal.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran berharga. Industri gim Tanah Air yang tengah berkembang pesat juga menghadapi tantangan serupa terkait kesejahteraan pekerja. Banyak pengembang lokal bekerja dengan kontrak jangka pendek dan jam kerja panjang tanpa jaminan perlindungan hukum. Jika tren unionisasi global terus menguat, bukan tidak mungkin isu serupa akan mencuat di studio-studio gim Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Rockstar mengakui serikat pekerja demi kelancaran produksi GTA VI, atau justru bersikukuh pada kebijakan keras yang berisiko memicu aksi mogok? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib para pekerja, tetapi juga masa depan salah satu waralaba gim paling bernilai di dunia.



