Mantan Bos PlayStation Kritik Strategi Baru Sony: Menjauhi PC adalah Kesalahan
Baca dalam 60 detik
- Shawn Layden, eks presiden Sony Interactive Entertainment America, menilai keputusan Sony menghentikan rilis game single-player di PC sebagai langkah yang keliru.
- Menurut Layden, strategi itu justru memangkas potensi pendapatan dari gamer yang tidak memiliki konsol dan tidak akan membelinya.
- Komentar ini muncul di tengah perdebatan global tentang eksklusivitas platform, yang juga relevan bagi pasar game Indonesia yang didominasi pengguna PC.

Keputusan Sony untuk tidak lagi merilis game single-player buatan studio internal ke platform PC menuai kritik tajam dari mantan petingginya sendiri. Shawn Layden, yang pernah menjabat sebagai presiden Sony Interactive Entertainment America, menyebut langkah tersebut sebagai "kesalahan" yang berpotensi memutus akses jutaan calon konsumen di luar ekosistem PlayStation.
Dalam wawancara dengan PlayStation Inside, Layden menggarisbawahi bahwa strategi eksklusivitas yang kaku justru kontraproduktif. Ia berargumen bahwa gamer PC yang rela menunggu 18 bulan demi memainkan judul seperti God of War atau Horizon Zero Dawn bukanlah konsumen yang akan beralih ke konsol. "Jika seseorang menunggu 18 bulan untuk game rilis di PC, kita tidak kehilangan penjualan dari mereka—mereka sejak awal tidak berniat membeli konsol," ujarnya.
Layden menambahkan bahwa pendekatan semacam itu sejatinya membuka peluang monetisasi dari kelompok yang sepenuhnya berada di luar ekosistem PlayStation. "Anda tidak sedang mendevaluasi merek, Anda justru memperluas jangkauan merek," tegasnya. Pandangan ini kontras dengan kebijakan terbaru Sony yang kembali memprioritaskan eksklusivitas konsol setelah sebelumnya sukses merilis sejumlah port PC.
Kritik Layden juga menyentuh fenomena maraknya "analis dadakan" di media sosial yang gemar mengomentari strategi bisnis perusahaan raksasa. "Saya suka bagaimana semua orang di internet tiba-tiba menjadi analis pemasaran dan psikolog paruh waktu yang paham detail perilaku konsumen lebih baik dari organisasi bernilai miliaran dolar," sindirnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa keputusan bisnis semestinya didasarkan data, bukan sekadar tekanan komunitas.
Bagi pasar Indonesia, perdebatan ini memiliki resonansi tersendiri. Data Asosiasi Game Indonesia (AGI) menunjukkan bahwa lebih dari 70% gamer Tanah Air bermain di PC dan mobile, sementara konsol masih menjadi barang premium. Jika Sony benar-benar menutup akses PC, jutaan pemain potensial di Indonesia akan kehilangan kesempatan menikmati judul-judul eksklusif PlayStation secara legal. Padahal, model rilis tunda (delayed release) sebelumnya terbukti menguntungkan—seperti yang dilakukan Microsoft dengan Xbox Game Pass yang merambah PC.
Ke depan, keputusan Sony akan menjadi ujian apakah strategi eksklusivitas ketat masih relevan di era di mana batas platform semakin kabur. Apakah Sony akan bertahan pada jalurnya, atau justru kembali membuka pintu bagi gamer PC seperti yang disarankan Layden? Jawabannya akan menentukan peta persaingan industri game global, termasuk bagaimana para pemain di Indonesia bisa mengakses konten-konten berkualitas dari raksasa Jepang tersebut.



