Festival Air Kamboja Dibatalkan Lagi, Hun Manet Fokus pada Prioritas Nasional
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Kamboja membatalkan perayaan festival air nasional di Phnom Penh untuk tahun kedua berturut-turut, dengan alasan prioritas nasional yang bergeser.
- Perdana Menteri Hun Manet menandatangani surat edaran yang menyebutkan isu perbatasan, kebutuhan publik, dan bantuan bagi pengungsi sebagai alasan pembatalan.
- Meskipun acara utama dibatalkan, hari libur nasional tetap berlaku, dan perayaan di tingkat provinsi masih diizinkan.

Kamboja kembali membatalkan festival air tahunan di ibu kota Phnom Penh yang sedianya digelar pada 23-25 November, menandai tahun kedua berturut-turut perayaan terbesar di negara itu tidak digelar. Keputusan ini diumumkan melalui surat edaran yang ditandatangani Perdana Menteri Hun Manet pada Rabu (1/7) dan dipublikasikan hari yang sama.
Dalam surat edaran tersebut, pemerintah Kamboja menyebutkan bahwa pembatalan dilakukan karena adanya pergeseran prioritas nasional. Beberapa alasan yang dikemukakan antara lain penanganan isu perbatasan, pemenuhan kebutuhan publik, serta bantuan bagi penduduk yang mengungsi. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintahan Hun Manet memilih untuk mengalokasikan sumber daya dan perhatian pada urusan yang dianggap lebih mendesak.
Festival air, atau Bon Om Touk, merupakan salah satu perayaan paling meriah di Kamboja. Acara ini biasanya menarik ratusan ribu orang dari berbagai provinsi ke Phnom Penh untuk menyaksikan lomba perahu tradisional di Sungai Tonle Sap, tepat di depan Istana Kerajaan. Kemeriahan festival ini menjadi simbol persatuan dan kebanggaan budaya, sehingga pembatalannya tentu mengecewakan banyak pihak.
Meski acara utama di Phnom Penh ditiadakan, surat edaran tersebut menyatakan bahwa perayaan di tingkat provinsi dapat tetap berlangsung sesuai tradisi setempat. Selain itu, hari libur nasional selama tiga hari bagi seluruh pegawai negeri dan swasta tetap berlaku, sehingga masyarakat masih memiliki waktu untuk beristirahat atau merayakan secara sederhana di daerah masing-masing.
Bagi Indonesia, kebijakan Kamboja ini memberikan gambaran tentang bagaimana negara tetangga mengelola tradisi di tengah tekanan prioritas nasional. Indonesia sendiri memiliki banyak festival budaya yang kerap kali harus disesuaikan dengan situasi politik dan ekonomi. Keputusan Kamboja ini bisa menjadi bahan perbandingan dalam hal keseimbangan antara pelestarian budaya dan respons terhadap isu-isu mendesak.
Menurut pengamat politik Asia Tenggara, langkah Hun Manet mencerminkan gaya kepemimpinan yang pragmatis, di mana kepentingan jangka pendek seperti stabilitas perbatasan dan bantuan kemanusiaan diutamakan di atas perayaan massal. Namun, pembatalan dua tahun berturut-turut juga menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana tradisi dapat dikorbankan demi agenda politik.
Ke depan, publik Kamboja dan pengamat regional akan mencermati apakah festival air akan kembali digelar pada tahun depan atau justru mengalami perubahan format permanen. Pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah prioritas nasional terus mengesampingkan perayaan budaya, ataukah ada upaya untuk mengakomodasi keduanya secara lebih seimbang?



