IHSG Sesi I Menguat 0,84% di Tengah Arus Keluar Asing Rp349 Miliar; BBCA Jadi Primadona
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 0,84% pada sesi pertama perdagangan hari ini, meskipun investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp349 miliar.
- Saham perbankan seperti BBRI dan BMRI menjadi sasaran jual asing terbesar, sementara BBCA justru diborong dengan net buy Rp153,3 miliar.
- Fenomena ini mencerminkan strategi rotasi portofolio asing ke emiten dengan fundamental lebih solid di tengah ketidakpastian global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan sesi pertama hari ini, Rabu (1/6/2026), dengan catatan positif. Meski indeks berhasil menguat 0,84%, aliran dana asing justru menunjukkan tren sebaliknya. Data Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp349 miliar pada sesi pertama, dengan total transaksi jual mencapai Rp2,3 triliun dan beli Rp1,9 triliun.
Tekanan jual asing masih terpusat pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi yang paling tertekan dengan net sell Rp224,7 miliar, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp162,5 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) senilai Rp50,4 miliar. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga masuk dalam daftar lima besar net sell asing dengan nilai Rp58,4 miliar.
Di sisi lain, aksi beli asing justru terkonsentrasi pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatat net buy Rp153,3 miliar. Dua emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT), juga menarik minat asing dengan net buy masing-masing Rp32,6 miliar dan Rp26,2 miliar.
Fenomena ini mengindikasikan adanya rotasi portofolio investor asing dari saham perbankan pelat merah ke emiten dengan likuiditas tinggi dan fundamental yang dianggap lebih defensif. BBCA, misalnya, dikenal memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) rendah dan pertumbuhan laba yang stabil. Sementara itu, CUAN dan BRPT yang bergerak di sektor energi dan pertambangan diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global.
Bagi pelaku pasar domestik, aksi jual asing di saham BUMN seperti BBRI dan BMRI patut dicermati. Kedua emiten ini selama ini menjadi andalan indeks, namun tekanan jual asing bisa berlanjut jika sentimen global masih negatif. Di sisi lain, minat asing terhadap BBCA menunjukkan bahwa saham dengan kapitalisasi besar dan fundamental kuat tetap menjadi safe haven di tengah volatilitas.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada data ekonomi global, terutama kebijakan suku bunga bank sentral AS. Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, arus modal asing berpotensi keluar lebih deras dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Namun, penguatan IHSG di sesi pertama hari ini memberikan sinyal bahwa optimisme investor domestik masih terjaga. Akankah tren ini bertahan hingga akhir pekan?



