Anak Usaha Prodia Tawarkan 522,9 Juta Saham di Harga Rp120 per Lembar
Baca dalam 60 detik
- PT Prodia Diagnostic Line mematok harga IPO Rp120 per saham, di ujung atas kisaran prospektus.
- Dana Rp62,75 miliar yang dihimpun akan digunakan untuk melunasi utang ke BCA dan Panin Bank.
- Laba bersih PRDL fluktuatif, dari Rp35,8 miliar (2023) turun ke Rp10 miliar (2024) lalu naik ke Rp17 miliar (2025).

PT Prodia Diagnostic Line, anak usaha Grup Prodia di bidang alat kesehatan diagnostik, resmi memulai masa penawaran umum perdana saham (IPO) pada Rabu (1/7/2026) dengan harga Rp120 per saham. Harga tersebut berada di batas atas rentang penawaran awal yang dipatok Rp100โRp120 per saham dalam prospektus.
Perseroan yang akan tercatat dengan kode saham PRDL di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini melepas sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru, setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO. Dengan demikian, PRDL menargetkan perolehan dana segar sebesar Rp62,75 miliar.
Dari total dana yang dihimpun, sekitar Rp35,67 miliar akan dialokasikan untuk melunasi pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (Panin Bank). Langkah ini menunjukkan strategi perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dengan mengurangi beban utang.
PRDL bergerak di sektor pembuatan dan pengolahan alat kesehatan untuk diagnosis medis, khususnya in vitro diagnostics (IVD). Fasilitas produksi perseroan berlokasi di Kawasan Industri Jababeka III, Cikarang, Jawa Barat. Bisnis IVD menjadi segmen yang kian strategis seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan deteksi dini penyakit dan kebutuhan alat kesehatan di Indonesia.
Kinerja keuangan PRDL menunjukkan tren fluktuatif. Pada 2023, laba bersih perseroan tercatat Rp35,8 miliar, kemudian merosot tajam menjadi Rp10 miliar pada 2024, sebelum pulih ke angka Rp17 miliar pada 2025. Penurunan laba pada 2024 kemungkinan dipengaruhi oleh tekanan biaya operasional atau perubahan permintaan pasar, namun pemulihan di 2025 mengindikasikan adanya perbaikan fundamental.
IPO ini menjadi momentum bagi investor untuk melihat prospek bisnis alat kesehatan di Indonesia. Dengan dana yang diperoleh, PRDL berpeluang memperkuat posisinya di industri IVD yang kompetitif. Namun, volatilitas laba bersih perlu dicermati sebagai risiko investasi. Pencatatan saham PRDL di BEI dijadwalkan pada 9 Juli 2026, dan pasar akan menguji apakah valuasi Rp120 per saham sejalan dengan prospek pertumbuhan jangka panjang perseroan.



