IPO Bach Multi Global Rp442 per Saham: Djarum Siapkan Perombakan Kepemilikan
Baca dalam 60 detik
- Emiten infrastruktur telekomunikasi BACH mematok harga IPO Rp442 per saham, mengumpulkan dana segar Rp271,83 miliar.
- Hasil IPO akan digunakan untuk melunasi utang ke Bank Permata dan memperkuat modal kerja operasional.
- Pasca-IPO, GTP (afiliasi Djarum) berpotensi menjadi pengendali baru dengan mengakuisisi saham BMSI.

PT Bach Multi Global Tbk (BACH), perusahaan penyedia genset dan jasa infrastruktur telekomunikasi milik Grup Djarum, resmi menetapkan harga penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp442 per lembar. Angka ini berada di tengah kisaran bookbuilding Rp400โRp500 yang berlangsung pada 22โ24 Juni 2026, mengindikasikan respons pasar yang moderat terhadap emiten anyar ini.
Melalui IPO, BACH menawarkan 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pencatatan. Dengan harga tersebut, perseroan berpotensi mengantongi dana segar Rp271,83 miliar. Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 7 Juli 2026, dengan PT Erdikha Elit Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi.
Manajemen BACH mengalokasikan sekitar Rp91,02 miliar dari dana IPO untuk membayar sebagian pinjaman kepada PT Bank Permata Tbk. Sisanya, Rp213,48 miliar, akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk untuk pembayaran kepada pemasok dan mendukung operasional harian. Langkah ini mencerminkan upaya perseroan memperkuat struktur permodalan di tengah ekspansi bisnis.
BACH mengelola dua lini utama: penjualan dan penyewaan genset, serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Perseroan melihat prospek positif kedua sektor tersebut seiring meningkatnya kebutuhan pasokan listrik cadangan dan percepatan pembangunan infrastruktur digital di Indonesia. โKami optimistis permintaan akan terus tumbuh, terutama dari sektor telekomunikasi dan industri yang membutuhkan keandalan listrik,โ demikian pernyataan manajemen dalam prospektus.
Yang menarik, IPO ini dibarengi dengan perubahan struktur kepemilikan yang signifikan. Sebelum IPO, PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) memegang 61,55% saham, sementara PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) memiliki 30%. Setelah IPO, porsi BMSI terdilusi menjadi 52,32% dan GTP menjadi 25,49%, dengan masyarakat menguasai 15,06%. Namun, komposisi ini belum final karena GTP telah menyatakan akan mengeksekusi hak opsi untuk membeli 1,04 miliar saham milik BMSI. Jika transaksi rampung, GTP akan menguasai 51% saham BACH dan menjadi pemegang saham pengendali, sementara BMSI turun menjadi 26,81%.
GTP merupakan perusahaan milik PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yang dikendalikan oleh kelompok usaha Djarum. Langkah ini memperkuat jejak Djarum di sektor infrastruktur telekomunikasi, sejalan dengan ekspansi TOWR yang terus menambah portofolio menara dan fiber optik. Bagi investor, perubahan pengendali ini bisa menjadi katalis positif, mengingat rekam jejak Djarum dalam mengelola perusahaan publik.
Ke depan, tantangan BACH adalah membuktikan kemampuan menghasilkan pertumbuhan laba seiring penggunaan dana IPO. Dengan beban utang yang berkurang dan modal kerja yang lebih longgar, perseroan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan meraih kontrak baru. Apakah langkah ini cukup untuk memikat minat investor di tengah persaingan ketat sektor infrastruktur? Jawabannya akan terlihat setelah saham BACH mulai diperdagangkan awal Juli mendatang.



