Piala Dunia 2026: Pochettino Siapkan Mental AS Hadapi Bosnia, Barbarez Tak Gentar
Baca dalam 60 detik
- Pelatih AS Mauricio Pochettino menegaskan timnya siap menghadapi situasi apa pun, termasuk adu penalti, saat bersua Bosnia di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
- Pochettino menolak status favorit, sementara pelatih Bosnia Sergej Barbarez justru mengakui keunggulan tuan rumah dan siap memberikan perlawanan sengit.
- Laga ini menjadi ujian bagi AS untuk memutus puasa kemenangan di babak gugur sejak 2002, sekaligus ajang pembuktian bagi Bosnia yang tampil solid di fase grup.

Babak 32 besar Piala Dunia 2026 menyajikan duel menarik antara tuan rumah Amerika Serikat dan Bosnia-Herzegovina di San Francisco Bay Area Stadium. Pelatih AS, Mauricio Pochettino, menegaskan bahwa timnya telah mempersiapkan diri secara matang untuk menghadapi segala kemungkinan, termasuk adu penalti, dalam laga yang akan berlangsung besok.
Pochettino, yang dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan detail, mengungkapkan bahwa ia telah melatih mental pemainnya sejak jauh-jauh hari. "Setiap pertandingan adalah final. Kami sudah membangun intensitas itu sejak laga uji coba melawan Jerman, Senegal, Uruguay, dan Paraguay," ujarnya. Ia juga mengakui kekuatan Bosnia yang disebutnya sebagai tim agresif, terorganisir, dan memiliki kualitas individu mumpuni.
Di sisi lain, pelatih Bosnia Sergej Barbarez justru melempar status favorit kepada AS. "Mereka di atas kami dalam peringkat dunia, bermain di kandang sendiri, dan memiliki pemain-pemain hebat. Tapi menjadi underdog bukan masalah bagi kami. Begitu peluit dibunyikan, semua prediksi tidak berarti," tegas Barbarez. Ia berjanji timnya tidak akan mengubah pendekatan yang telah membawa mereka sejauh ini selama 18 bulan terakhir.
Bagi AS, laga ini menjadi momentum untuk memutus catatan buruk di babak gugur Piala Dunia. Terakhir kali mereka memenangkan pertandingan knockout adalah pada edisi 2002. Tekanan sebagai tuan rumah pun semakin besar, namun Pochettino enggan terbebani. "Lebih mudah bicara soal favorit setelah pertandingan, bukan sebelumnya," katanya.
Menariknya, kedua pelatih sama-sama berusia 54 tahun dan memiliki filosofi yang berbeda. Pochettino lebih menekankan pada kesiapan mental dan fleksibilitas taktik, sementara Barbarez mengandalkan semangat juang dan konsistensi. "Kami tidak akan mengubah pendekatan yang sudah berhasil. Kami akan memberikan perlawanan terbaik dan berharap meraih kemenangan," ujar Barbarez.
Bagi publik sepak bola Indonesia, laga ini juga menarik karena menunjukkan betapa ketatnya persaingan di Piala Dunia. Tim-tim yang dianggap underdog seperti Bosnia mampu merepotkan raksasa seperti AS. Ini menjadi pelajaran bahwa persiapan mental dan taktik yang matang bisa menjadi pembeda di turnamen sebesar ini.
Pertanyaan besarnya, akankah AS mampu memanfaatkan dukungan publik dan memutus kutukan babak gugur? Atau justru Bosnia yang akan mencuri perhatian dengan permainan agresif mereka? Jawabannya akan terjawab dalam 90 menit pertandingan yang sarat gengsi.



