Keputusan Kontroversial VAR: Gol Jerman Dianulir, FIFA Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- FIFA menegaskan bahwa keputusan menganulir gol Jerman telah sesuai dengan pedoman yang sudah disosialisasikan kepada pelatih dan pemain sebelum Piala Dunia.
- Wasit menganulir gol Jonathan Tah karena Waldemar Anton dianggap sengaja menghalangi kiper Paraguay, sebuah pelanggaran yang menurut FIFA harus dihukum tegas.
- Kekalahan ini menjadi pertama kalinya Jerman kalah dalam adu penalti di Piala Dunia, memicu kritik tajam dari pelatih Julian Nagelsmann.

Keputusan kontroversial video assistant referee (VAR) kembali mewarnai gelaran Piala Dunia. Kali ini, Jerman harus gigit jari setelah gol Jonathan Tah pada babak perpanjangan waktu dianulir wasit, membuat mereka tersingkir di babak 32 besar oleh Paraguay melalui adu penalti. FIFA pun angkat bicara, membela keputusan wasit yang disebut sebagai 'lelucon' oleh pelatih Jerman, Julian Nagelsmann.
Dalam pertandingan yang berlangsung sengit, Jerman unggul lebih dulu sebelum Paraguay menyamakan kedudukan. Saat laga memasuki babak perpanjangan waktu, Tah berhasil menjebol gawang Paraguay dan bersiap merayakan gol kemenangan. Namun, wasit Jalal Jayed dari Maroko, setelah berkonsultasi dengan VAR, memutuskan untuk menganulir gol tersebut. Penyebabnya, Waldemar Anton dianggap melakukan pelanggaran terhadap kiper Paraguay, Orlando Gill, dengan cara menghalangi pergerakannya saat bola datang.
Keputusan itu sontak memicu kemarahan kubu Jerman. Nagelsmann dengan nada sinis menyebut keputusan wasit sebagai 'joke' atau lelucon. Menurutnya, kontak antara Anton dan Gill tidak cukup kuat untuk disebut pelanggaran. โMenurut saya, ini bukan pelanggaran sebenarnya; sungguh lelucon gol itu dianulir,โ ujarnya usai pertandingan.
Menanggapi kontroversi ini, Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa sebelum turnamen dimulai, seluruh pelatih dan pemain telah diberi pengarahan bahwa wasit akan menghukum keras tindakan pemain yang sengaja menghalangi lawan tanpa berusaha memainkan bola, terutama jika menyangkut kiper. โMenjaga posisi bukanlah pelanggaran, tetapi jika seorang pemain penyerang tidak tertarik pada bola dan dengan sengaja bergerak, meski sedikit, dengan tujuan jelas menghalangi pergerakan lawan dan mencegahnya bertahan, maka wasit dan VAR harus turun tangan,โ jelas Collina.
Keputusan ini mengingatkan pada polemik serupa yang kerap terjadi di sepak bola modern, di mana interpretasi aturan blocking menjadi abu-abu. Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan sepak bola dan mulai menerapkan VAR di liga domestik, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Penerapan VAR di Liga 1 Indonesia yang masih dalam tahap awal perlu mengantisipasi kontroversi serupa dengan memberikan sosialisasi yang jelas kepada seluruh pemangku kepentingan. Kejadian ini juga menegaskan pentingnya konsistensi wasit dalam menegakkan aturan, terutama di momen krusial.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Jerman, yang sebelumnya belum pernah kalah dalam adu penalti di Piala Dunia. Kini, Nagelsmann harus menghadapi kritik tajam dan spekulasi mengenai masa depannya. Sementara itu, Paraguay melaju ke babak 16 besar dengan modal kepercayaan diri tinggi. Pertanyaan besarnya, akankah keputusan kontroversial ini memicu perubahan dalam pedoman wasit di masa depan, atau justru akan terus menjadi momok bagi tim yang dirugikan?



