IPO BACH Rp442 per Saham: Djarum Siapkan Akuisisi, Dana Segar Rp271 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Emiten infrastruktur telekomunikasi PT Bach Multi Global Tbk mematok harga IPO Rp442 per saham, mengumpulkan dana segar Rp271,83 miliar.
- Dana hasil IPO akan digunakan untuk melunasi utang ke Bank Permata dan memperkuat modal kerja, seiring ekspansi bisnis genset dan konstruksi telekomunikasi.
- Struktur kepemilikan berpotensi berubah drastis setelah Grup Djarum melalui GTP mengeksekusi opsi beli saham, menguasai 51% saham BACH.

PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten infrastruktur telekomunikasi yang juga bergerak di bisnis genset, resmi menetapkan harga penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp442 per lembar. Dengan harga tersebut, perseroan berpotensi mengantongi dana segar hingga Rp271,83 miliar dari pelepasan 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Harga IPO ini berada di tengah kisaran bookbuilding yang dilakukan pada 22โ24 Juni 2026, yaitu Rp400โRp500 per saham. Penetapan harga yang moderat ini dinilai sebagai strategi untuk menarik minat investor di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif. Penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO ini adalah PT Erdikha Elit Sekuritas.
Manajemen BACH mengalokasikan dana hasil IPO untuk dua kebutuhan utama. Sekitar Rp91,02 miliar akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman kepada PT Bank Permata Tbk, sementara sisanya sebesar Rp213,48 miliar dialokasikan sebagai modal kerja guna mendukung operasional dan pembayaran kepada pemasok. Langkah ini menunjukkan upaya perseroan untuk memperkuat struktur permodalan di tengah ekspansi bisnis.
BACH saat ini mengelola dua lini bisnis utama: penjualan dan penyewaan genset, serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Kedua sektor ini dinilai memiliki prospek cerah seiring meningkatnya kebutuhan pasokan listrik cadangan dan percepatan pembangunan infrastruktur digital di Indonesia. Perseroan optimistis permintaan akan terus tumbuh seiring dengan elektrifikasi dan digitalisasi di berbagai daerah.
Yang menarik, IPO ini terjadi di tengah perubahan struktur kepemilikan yang signifikan. Sebelum IPO, PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) menguasai 61,55% saham, sementara PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) memegang 30%. Setelah IPO, porsi BMSI akan terdilusi menjadi 52,32% dan GTP menjadi 25,49%, dengan masyarakat menguasai 15,06%. Namun, komposisi ini belum final karena GTP telah menyatakan akan mengeksekusi hak opsi untuk membeli 1,04 miliar saham milik BMSI. Jika transaksi rampung, GTP akan menguasai 51% saham BACH dan menjadi pengendali, sementara BMSI tersisa 26,81%.
GTP sendiri merupakan anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang dikendalikan oleh kelompok usaha Djarum. Masuknya Djarum melalui GTP ke dalam BACH menandai langkah strategis untuk memperkuat posisi di sektor infrastruktur telekomunikasi, sejalan dengan ekspansi bisnis menara dan jaringan yang telah digeluti TOWR. Bagi investor, perubahan pengendali ini bisa menjadi katalis positif karena membawa serta pengalaman dan jaringan luas Grup Djarum.
Bagi pembaca di Indonesia, IPO BACH memberikan gambaran bagaimana perusahaan infrastruktur skala menengah memanfaatkan pasar modal untuk mendanai pertumbuhan. Dengan dana segar dan potensi perubahan pengendali, BACH berpeluang meningkatkan skala bisnisnya di tengah persaingan ketat sektor telekomunikasi dan kelistrikan. Pertanyaan yang tersisa: akankah langkah ini cukup untuk mendorong pertumbuhan laba dan memberikan imbal hasil menarik bagi pemegang saham baru?



