Prabowo di HUT Bhayangkara: Polri Wajib Kuasai AI dan Jaga Kepercayaan Rakyat
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo menekankan enam arahan strategis untuk Polri pada peringatan HUT ke-80 Bhayangkara, termasuk penguasaan AI dan sinergi dengan TNI.
- Kepercayaan publik disebut sebagai modal utama Polri, dengan pesan agar aparat tidak menyusahkan rakyat dan selalu dekat dengan masyarakat.
- Arahan penguasaan teknologi dan AI menjadi sorotan karena relevan dengan tantangan kejahatan modern yang semakin kompleks.

Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan momentum Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-80 untuk menyampaikan enam arahan strategis kepada jajaran Kepolisian RI, dengan penekanan pada penguasaan kecerdasan buatan (AI) dan penguatan kepercayaan publik. Dalam pidato yang disampaikan di Cikeas, Jawa Barat, Rabu (1/7), Prabowo mengingatkan bahwa polisi modern tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional dalam menghadapi kejahatan masa depan.
Arahan pertama yang disorot adalah permintaan agar Polri senantiasa menjaga kepercayaan rakyat. Menurut Prabowo, kepercayaan merupakan senjata terkuat seorang polisi. Ia menegaskan bahwa tanpa kepercayaan publik, institusi kepolisian akan kehilangan legitimasi dalam menjalankan tugasnya. Pesan ini disampaikan di tengah berbagai tantangan citra Polri pasca-reformasi internal yang masih terus berproses.
Prabowo juga secara spesifik meminta Polri menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan kecerdasan buatan. "Kejahatan masa kini dan masa depan hanya bisa dikalahkan oleh aparat yang selalu belajar, yang cerdas dan yang handal," ujarnya. Arahan ini relevan dengan tren global di mana kejahatan siber dan kejahatan berbasis teknologi semakin marak. Indonesia sendiri mencatat peningkatan kasus penipuan daring dan peretasan yang membutuhkan respons kepolisian yang adaptif.
Selain aspek teknologi, Prabowo menekankan pentingnya kedekatan Polri dengan rakyat. Ia meminta agar polisi selalu hadir saat masyarakat membutuhkan, bukan justru menyusahkan. "Dengarkan rakyat, layani rakyat, lindungi rakyat. Ingat, gaji kita sebagai alat negara adalah dari rakyat," tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi paradigma pelayanan publik yang harus dipegang teguh oleh setiap anggota Polri.
Dalam konteks sinergi antarlembaga, Prabowo meminta Polri untuk tidak bekerja sendirian. Ia mendorong kerja sama dengan TNI, pemerintah, tokoh masyarakat, ulama, akademisi, media, pengusaha, petani, nelayan, dan buruh. Pesan ini mengindikasikan perlunya pendekatan multi-stakeholder dalam menjaga keamanan dan ketertiban, terutama di daerah-daerah rawan konflik.
Terakhir, Presiden mengingatkan agar Polri tidak sombong dan tetap rendah hati. "Institusi yang besar adalah institusi yang mau mendengar," katanya. Arahan ini menjadi penutup yang menekankan pentingnya introspeksi dan keterbukaan terhadap kritik. Dengan enam arahan ini, Prabowo memberikan peta jalan bagi Polri untuk menjadi institusi yang profesional, modern, dan dicintai rakyat.
Ke depan, tantangan bagi Polri adalah mengimplementasikan arahan tersebut secara konkret, terutama dalam hal penguasaan AI yang membutuhkan investasi sumber daya manusia dan infrastruktur. Akankah Polri mampu bertransformasi menjadi korps yang adaptif terhadap perubahan zaman? Jawabannya akan terlihat dari langkah-langkah strategis yang diambil pasca-HUT Bhayangkara kali ini.



