Bupati Bangkalan Desak Polisi Bongkar Misteri Kematian Sekretaris Dinas di Bandara Juanda
Baca dalam 60 detik
- Bupati Bangkalan Lukman Hakim meminta kepolisian mengusut tuntas kematian misterius Sekretaris Dinas PRKP, RYS, yang jasadnya ditemukan di mobil dinas di Bandara Juanda.
- Rekaman CCTV menunjukkan seorang pria misterius mengemudikan mobil korban masuk bandara, lalu meninggalkannya sendirian, sementara perhiasan korban hilang dan autopsi awal mengindikasikan kekerasan.
- Keluarga dan kuasa hukum meyakini lokasi penemuan mayat bukan tempat kejadian perkara sebenarnya, dan polisi dikabarkan telah mengidentifikasi pelaku.

Bupati Bangkalan Lukman Hakim secara resmi meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus kematian Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Bangkalan, RYS (50), yang jasadnya ditemukan dalam kondisi misterius di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Surabaya.
Lukman menegaskan harapannya agar penyebab pasti kematian anak buahnya itu segera terungkap. “Yang paling penting, masalah ini segera terang berkaitan dengan meninggalnya salah satu pegawai kami,” ujarnya di Bangkalan, Selasa (30/6). Ia juga mendorong proses hukum berjalan transparan demi menghindari spekulasi liar di masyarakat. “Semoga selesai, tidak ada pertanyaan, tidak ada persepsi yang keliru. Penyelesaian secara hukum biar clear,” tambahnya.
Pernyataan itu muncul setelah keluarga korban menyerahkan sepenuhnya pengusutan kepada polisi. Lukman pun menyampaikan duka cita mendalam atas nama pribadi dan Pemkab Bangkalan kepada keluarga RYS.
Kejanggalan mulai terkuak setelah kuasa hukum keluarga, Risang Bima Wijaya, mengungkap isi rekaman CCTV yang diperlihatkan polisi. Dalam rekaman gerbang masuk bandara, mobil korban dikemudikan seorang pria sendirian—memakai masker putih, kaus biru, kacamata minus, dan rambut ikal. Pria itu mengambil tiket parkir, sementara RYS sama sekali tidak terlihat di kursi penumpang. Risang menduga jok penumpang sengaja direbahkan pelaku agar korban tidak tampak.
Rekaman di area parkir memperlihatkan pria yang sama turun dari mobil lalu meninggalkan bandara dengan taksi. Tidak ada seorang pun keluar dari sisi penumpang. “Hanya diinformasikan, ketika di parkiran tidak ada yang keluar dari kursi penumpang. Yang keluar hanya orang itu saja,” kata Risang.
Keanehan lain: perhiasan korban—gelang dan kalung—hilang saat autopsi. Anting kiri lepas, diduga akibat benturan benda tumpul. Hanya anting kanan dan cincin kiri yang diserahkan ke keluarga. Sementara ponsel dan dompet korban diamankan polisi. Risang yakin ponsel menjadi kunci identifikasi pelaku. “Kami yakin polisi sudah memindai HP korban dan sudah mengetahui petunjuknya,” ujarnya.
Dari seluruh fakta, Risang meyakini tempat kejadian perkara sebenarnya bukan di Bandara Juanda. “Lokasi itu hanya digunakan pelaku sebagai tempat membuang jenazah yang sudah meninggal lebih dulu di tempat lain,” tegasnya. Autopsi sementara memperkuat dugaan kekerasan: ditemukan tanda-tanda mati lemas atau kekurangan oksigen (asfiksia). Risang juga mengklaim penyidik telah mengidentifikasi pelaku, meski belum ada pengumuman resmi.
Polresta Sidoarjo masih mendalami kasus ini. Kasat Reskrim AKP Siko mengatakan tim Inafis dan Polsek Sedati telah dikerahkan ke lokasi. Jenazah RYS dibawa ke RS Pusdik Bhayangkara Porong untuk autopsi lebih lanjut. Jasad pertama kali ditemukan oleh driver taksi online yang mencium bau busuk dan melihat cairan menetes dari mobil yang sudah terparkir empat hari. General Manager Bandara Juanda, Muhammad Tohir, membenarkan penemuan tersebut dan menyatakan manajemen mendukung penuh investigasi polisi.
Dengan desakan bupati dan bukti-bukti awal yang mengarah pada tindak kriminal, publik kini menanti apakah polisi mampu mengungkap dalang di balik kematian RYS dan motif di balik peristiwa ini.



