Negosiasi Iran-AS Buntu, Harga Minyak Dunia Kembali Menguat
Baca dalam 60 detik
- Kegagalan dialog langsung antara Teheran dan Washington memicu kekhawatiran pasokan minyak dari kawasan Teluk.
- Selat Hormuz yang mulai dibuka kembali belum sepenuhnya pulih, membuat pasar wait and see.
- Penurunan stok minyak mentah AS turut mendorong kenaikan harga di tengah ketidakpastian geopolitik.

Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan pada perdagangan Rabu (1/7) setelah negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan damai, memicu kekhawatiran baru akan terganggunya pasokan dari kawasan produksi utama Timur Tengah.
Brent futures naik 33 sen (0,45 persen) menjadi 73,28 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 34 sen (0,49 persen) ke posisi 69,84 dolar AS. Pergerakan ini membalikkan tren penurunan tajam yang terjadi pada kuartal kedua, di mana Brent kehilangan sekitar 45 dolar AS per barelโterbesar sejak krisis keuangan 2008โdan WTI turun 31 dolar AS, rekor sejak pandemi Covid-19.
Utusan khusus AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, tiba di Doha, Qatar, untuk apa yang disebut Gedung Putih sebagai pembicaraan "tingkat tinggi". Namun, Iran dan tuan rumah Qatar menegaskan bahwa pertemuan hanya akan melibatkan mediator, bukan perwakilan Iran secara langsung. Qatar mengonfirmasi Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani turut bertemu dengan Kushner dan Witkoff. Kebuntuan ini menandai tidak adanya kemajuan berarti menuju kesepakatan akhir yang dapat mengakhiri konflik bersenjata antara kedua negara.
Selat Hormuz, jalur vital bagi sepertiga pasokan minyak dunia, mulai dibuka kembali secara bertahap. Namun, menurut Vandana Hari, pendiri Vanda Insights, prosesnya masih "tidak merata, tidak dapat diprediksi, dan tidak sepenuhnya transparan". Ia menambahkan bahwa tanpa pemahaman baru antara Washington dan Teheran, pasar akan menunggu dan melihat sebelum kembali ke tren bearish. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan menyatakan Iran tidak akan diizinkan memungut biaya tol di selat tersebut, menegaskan bahwa "ini tidak akan berakhir dengan Iran memungut biaya dari kapal yang melintasi Selat Hormuz."
Di sisi lain, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS turun 6,1 juta barel pada pekan yang berakhir 26 Juni, sementara stok bensin juga menurun. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan dirilis Rabu waktu setempat. Penurunan stok ini memberikan dorongan tambahan bagi harga di tengah ketidakpastian geopolitik.
Bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga ini berpotensi menambah beban anggaran subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Pemerintah perlu mencermati perkembangan negosiasi Iran-AS serta pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz untuk mengantisipasi fluktuasi harga yang lebih tajam. Analis memperkirakan bahwa jika kebuntuan berlanjut, harga minyak bisa kembali ke level 80 dolar AS per barel dalam waktu dekat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah AS dan Iran dapat menemukan titik temu sebelum konflik semakin meluas, atau justru pasar harus bersiap menghadapi gelombang volatilitas baru yang dipicu oleh ketidakpastian politik di kawasan Teluk.



