Yen Terjun Bebas ke Level Terendah 39 Tahun, Intervensi Jepang Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar yen menyentuh 162,70 per dolar AS, terlemah sejak 1986, dipicu data tenaga kerja AS yang memicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Bank of Japan merilis Tankan yang membaik, namun tak mampu membendung tekanan terhadap yen, memperkuat sinyal divergensi kebijakan moneter AS-Jepang.
- Pasar saham Tokyo sempat melonjak berkat sektor teknologi, tetapi investor mulai wait-and-see menjelang rilis data pekerjaan AS pekan ini.

Yen Jepang kembali terperosok ke titik terendah dalam hampir empat dekade, menembus level 162 yen per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu pagi di Tokyo. Pelemahan ini dipicu oleh data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan, memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuan.
Di pasar Tokyo, yen sempat menyentuh kisaran 162,70 terhadap dolar, level yang belum pernah terlihat sejak Desember 1986. Meskipun ada kekhawatiran intervensi dari otoritas Jepang, laju depresiasi mata uang Negeri Sakura itu belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada tengah hari, dolar AS diperdagangkan di kisaran 162,75-77 yen, naik dari posisi 162,54-64 yen di New York dan 162,25-26 yen pada penutupan Selasa sore di Tokyo.
Bank of Japan (BOJ) sebenarnya telah merilis hasil survei Tankan yang menunjukkan sentimen bisnis manufaktur besar Jepang membaik menjadi 22 pada Juni, naik dari 17 tiga bulan sebelumnya, melampaui ekspektasi pasar. Namun, data tersebut nyaris tidak berdampak pada pergerakan yen. Para analis menilai pasar lebih fokus pada divergensi kebijakan moneter antara BOJ yang masih ultra-longgar dan The Fed yang agresif menaikkan suku bunga.
Di bursa saham Tokyo, indeks Nikkei sempat melesat sekitar 1.900 poin di awal sesi, didorong oleh kenaikan saham teknologi yang mengikuti penguatan di Wall Street. Namun, aksi ambil untung kemudian menekan indeks sehingga kenaikan akhirnya terbatas. Investor juga cenderung menahan diri menjelang rilis data pekerjaan AS yang dijadwalkan pada Kamis, yang bisa menjadi penentu arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Pelemahan yen yang terus berlanjut membawa implikasi bagi Indonesia, terutama melalui jalur perdagangan dan utang. Jepang merupakan mitra dagang utama dan investor besar di Indonesia. Yen yang lemah membuat produk Jepang lebih kompetitif di pasar global, tetapi juga meningkatkan beban utang bagi perusahaan Indonesia yang memiliki pinjaman dalam yen. Di sisi lain, imported inflation dari Jepang bisa menekan daya beli konsumen Indonesia jika harga barang impor Jepang naik dalam rupiah.
Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan yen karena bisa mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah secara tidak langsung. Jika dolar AS terus menguat terhadap yen, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi meningkat. Selain itu, investor asing di pasar keuangan Indonesia mungkin akan lebih berhati-hati mengingat ketidakpastian global yang masih tinggi.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah otoritas Jepang akan benar-benar melakukan intervensi untuk menahan laju yen. Menteri Keuangan Jepang telah beberapa kali memberikan peringatan verbal, namun tanpa aksi nyata, spekulasi pelemahan lebih lanjut masih terbuka. Pertanyaan besarnya: sejauh mana yen bisa terdepresiasi sebelum Bank of Japan atau Kementerian Keuangan turun tangan secara langsung?



