Rupiah Terperosok ke Rp17.950, Ancaman Tembus Rp18.000 Makin Nyata
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,42% ke Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan pertama Juli 2026, mendekati level psikologis Rp18.000.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan data lowongan kerja AS yang solid menjadi pemicu utama penguatan dolar.
- Pelaku pasar menanti data inflasi Indonesia Juni 2026 yang akan menjadi acuan kebijakan moneter Bank Indonesia.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal perdagangan Rabu (1/7/2026), dibuka melemah 0,42% ke posisi Rp17.950 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati batas psikologis Rp18.000 yang belum pernah ditembus dalam beberapa tahun terakhir.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada akhir Juni lalu, di mana rupiah ditutup turun 0,22% ke Rp17.875/US$ pada Selasa (30/6). Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS (DXY) yang naik 0,11% ke level 101,293 pada pukul 09.00 WIB.
Penguatan dolar didorong oleh ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini. Data lowongan kerja AS yang dirilis U.S. Bureau of Labor Statistics menunjukkan jumlah lowongan pada Mei naik 9.000 menjadi 7,594 juta, melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,296 juta. Angka ini mengindikasikan ketahanan ekonomi AS, sehingga memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli, dengan probabilitas 33,70% menurut CME FedWatch Tool.
Meski demikian, penguatan dolar sedikit tertahan oleh meredanya kekhawatiran pasokan minyak global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan meningkat, mengurangi risiko gangguan pasokan yang sempat memicu inflasi energi. Hal ini ikut menahan tekanan terhadap mata uang emerging market seperti rupiah.
Dari dalam negeri, pelaku pasar kini fokus pada rilis data inflasi Juni 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) siang ini. Konsensus 13 institusi memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,30% (mtm) dan inflasi tahunan 3,2% (yoy). Pada Mei lalu, inflasi bulanan tercatat 0,28% dan tahunan 3,08% dengan inflasi inti 2,59%.
Data inflasi ini menjadi krusial bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah kebijakan moneter pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, BI mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk menopang rupiah. Sebaliknya, inflasi yang rendah bisa membuka ruang pelonggaran moneter.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, pelemahan rupiah mendekati Rp18.000 menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya biaya impor, terutama bahan baku dan energi, yang dapat mendorong inflasi domestik. Sektor yang bergantung pada dolar, seperti manufaktur dan ritel, berpotensi mengalami tekanan margin. Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara dan sawit bisa diuntungkan dari nilai tukar yang lebih lemah.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat tergantung pada keputusan The Fed dan data ekonomi AS. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga pada Juli, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar. Namun, jika data inflasi Indonesia menunjukkan stabilitas, BI mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif. Pertanyaannya, akankah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.000 hingga akhir bulan?



