Buku Trump Laris Manis: 300.000 Eksemplar Terjual dalam Sepekan, Bantah Kejenuhan Pasar
Baca dalam 60 detik
- Buku 'Regime Change' karya Haberman dan Swan terjual lebih dari 300.000 kopi di minggu pertama, menjadi buku nonfiksi hardcover terlaris tahun 2026.
- Kesuksesan ini membantah spekulasi penerbit bahwa publik sudah bosan dengan buku bertema Trump, setelah penjualan serupa menurun di masa jabatan keduanya.
- Buku ini mengupas 14 bulan pertama masa kepresidenan kedua Trump, termasuk keputusan militer, penggunaan Departemen Kehakiman, dan perubahan estetika Gedung Putih.

Masyarakat Amerika Serikat ternyata belum jenuh dengan kisah seputar Donald Trump. Buku terbaru berjudul 'Regime Change: Inside the Imperial Presidency of Donald Trump' yang ditulis jurnalis politik Maggie Haberman dan Jonathan Swan sukses menembus angka penjualan 300.000 eksemplar hanya dalam pekan pertama peluncurannya, menurut penerbit Simon & Schuster.
Angka tersebut mencakup pesanan awal, penjualan cetak, ebook, dan e-audiobook, serta pesanan yang belum terpenuhi akibat tingginya permintaan. Simon & Schuster menyatakan buku ini sudah memasuki cetakan ketiga dengan 200.000 eksemplar tambahan dalam proses cetak, setelah stok di toko buku dan Amazon cepat habis. Prestasi ini menjadikannya buku nonfiksi hardcover dengan penjualan minggu pertama terbaik sepanjang tahun 2026.
Kesuksesan ini mematahkan asumsi sejumlah penerbit yang sebelumnya menduga publik mulai bosan dengan buku-buku tentang Trump. Selama masa jabatan keduanya, penjualan buku bertema Trump memang menurun drastis dibandingkan periode pertama. Namun, 'Regime Change' membuktikan bahwa minat masih tinggi jika sajiannya segar dan mendalam.
Buku ini menyajikan laporan mendalam tentang 14 bulan pertama masa kepresidenan kedua Trump, mengajak pembaca masuk ke dalam Gedung Putih, kediaman pribadi Trump di Mar-a-Lago, hingga perjalanan kenegaraan dengan Air Force One. Haberman dan Swan, yang kini menjadi reporter New York Times, memaparkan detail keputusan militer Trump, cara ia menggunakan Departemen Kehakiman untuk menekan lawan politik, serta obrolan dengan para pemangku kepentingan. Tak ketinggalan, buku ini mengupas upaya Trump merombak estetika dan struktur Gedung Putih.
Tesis utama buku ini sejalan dengan keyakinan Trump sendiri: jika ia tidak kalah dalam pemilu 2020, ia tidak akan sekuat sekarang di masa jabatan kedua. Kekalahan itu justru membuatnya semakin berani melanggar norma, membongkar institusi mapan, dan mendorong batas kekuasaan presiden. Trump sendiri mengecam buku tersebut sebagai "sebagian besar karangan", meski ia memiliki sejarah panjang dengan Haberman sejak masa liputan di New York.
Bagi pembaca Indonesia, fenomena ini menarik dicermati. Pasar buku politik di Indonesia juga kerap mengalami kejenuhan, namun karya yang menawarkan perspektif baru dan riset mendalam tetap mampu menarik minat. Kesuksesan 'Regime Change' menunjukkan bahwa publik masih haus akan informasi yang kredibel dan analitis, terutama di tengah banjir berita instan. Penerbit Tanah Air bisa belajar dari strategi Simon & Schuster yang berani mencetak ulang dalam jumlah besar dan memanfaatkan promosi media.
Sean Manning, wakil presiden dan penerbit Simon & Schuster, menyebut buku ini "telah memasuki percakapan nasional" dan akan dikenang sebagai "karya bersejarah". Pertanyaannya, apakah buku ini akan mampu mengubah persepsi publik tentang Trump, atau justru memperkuat polarisasi yang sudah ada? Yang jelas, 'Regime Change' telah membuktikan bahwa cerita tentang Trump masih jauh dari kata usang.



