Harga Minyak Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Geopolitik dan Surplus Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI naik tipis pada perdagangan Rabu pagi, namun belum mampu mengimbangi koreksi tajam sepanjang Juni.
- Pasar menanti hasil perundingan AS-Iran dan data stok minyak AS yang diperkirakan turun 4,5 juta barel, berpotensi memperpanjang tren penarikan stok.
- Kombinasi rekor produksi AS dan surplus global 2027 versi Morgan Stanley membayangi prospek harga, sementara risiko Selat Hormuz masih mengemuka.

Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Rabu (1/7/2026) pagi, meskipun tekanan jual yang melanda sepanjang bulan lalu masih membayangi sentimen investor. Brent naik 0,38% ke US$73,20 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,40% ke US$69,78 per barel. Pergerakan ini belum cukup untuk memulihkan posisi minyak yang anjlok sekitar 21% sepanjang Juni—koreksi bulanan terdalam sejak pandemi Covid-19 pada Maret 2020.
Di balik kenaikan tipis tersebut, pasar masih bergulat dengan dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, prospek surplus pasokan global mulai mengemuka. Energy Information Administration (EIA) melaporkan produksi minyak mentah Amerika Serikat mencapai rekor baru 13,93 juta barel per hari pada April, didorong oleh lonjakan produksi di Texas dan New Mexico. Morgan Stanley bahkan memperkirakan pasar minyak global akan mengalami kelebihan pasokan sekitar 4,8 juta barel per hari pada 2027. Angka ini menjadi sinyal bahwa era harga tinggi mungkin akan segera berakhir jika permintaan tidak mampu mengimbangi.
Namun di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menyisakan risiko. Utusan Amerika Serikat yang tiba di Doha, Qatar, belum menggelar perundingan tingkat tinggi dengan Iran. Pertemuan yang berlangsung pekan ini masih bersifat teknis dan berfokus pada isu keamanan kawasan. Situasi ini membuat pelaku pasar menilai bahwa ancaman gangguan pasokan melalui Selat Hormuz—yang sebelumnya dilalui sekitar 20% minyak dunia—belum sepenuhnya mereda, meskipun gencatan senjata sementara telah meredakan kekhawatiran.
Dari sisi fundamental jangka pendek, pasar juga menanti data stok minyak mentah AS yang akan dirilis EIA. Analis memperkirakan persediaan minyak AS turun sekitar 4,5 juta barel pada pekan lalu. Jika terealisasi, penurunan tersebut akan menjadi penarikan stok selama 10 pekan berturut-turut, menyamai rekor yang tercatat pada Januari 2018. Data ini bisa menjadi katalis positif bagi harga, setidaknya dalam jangka pendek.
Secara teknikal, harga minyak masih berada dalam kondisi oversold. Brent telah bertahan di area tersebut selama 13 hari berturut-turut, sementara WTI selama 11 hari. Kondisi ini kerap menjadi pemicu technical rebound, meskipun belum ada kepastian apakah kenaikan kali ini bersifat sementara atau awal dari pemulihan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak memiliki dampak langsung terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah mengasumsikan harga minyak Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 di kisaran US$70-80 per barel. Koreksi tajam ke level saat ini berpotensi menekan penerimaan negara dari sektor migas, sekaligus memengaruhi subsidi energi dan defisit fiskal. Di sisi lain, penurunan harga minyak juga bisa meredakan tekanan biaya impor minyak mentah dan produk olahan, yang selama ini menjadi beban neraca perdagangan.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati dua katalis utama: laporan resmi stok minyak mingguan dari EIA dan perkembangan perundingan AS-Iran. Apakah penurunan stok akan cukup kuat mendorong harga kembali ke level US$75, atau justru surplus global yang semakin nyata akan menekan Brent ke bawah US$70? Jawabannya akan bergantung pada kombinasi data fundamental dan dinamika geopolitik dalam beberapa pekan mendatang.



