TBS Energi Amankan Pinjaman Rp5,32 Triliun dari Konsorsium Bank Global untuk Transisi Hijau
Baca dalam 60 detik
- PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mendapatkan fasilitas pinjaman hingga SGD385 juta dari sembilan bank internasional, termasuk DBS dan Societe Generale.
- Dana tersebut akan digunakan untuk melunasi utang lama, modal kerja, dan belanja modal anak usaha, sekaligus mendukung transformasi bisnis dari batu bara ke energi berkelanjutan.
- Langkah ini menandai kepercayaan investor global terhadap prospek transisi energi di Indonesia, dengan segmen pengelolaan limbah kini menyumbang 60,2% dari pendapatan TOBA.

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mengamankan fasilitas pinjaman senilai hingga SGD385 juta atau setara Rp5,32 triliun dari konsorsium bank internasional, menandai langkah strategis emiten energi ini dalam mempercepat transformasi bisnis dari batu bara menuju sektor berkelanjutan.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, fasilitas tersebut terdiri dari term loan maksimal SGD345 juta dan fasilitas revolving SGD40 juta. Pinjaman diberikan kepada tiga entitas anak TOBA di Singapura: Cora Environment Group Pte. Ltd., SBT Invest Pte. Ltd., dan Taonga Holdings Pte. Ltd. Transaksi ini melibatkan sembilan bank lintas yurisdiksi, dengan DBS Bank Ltd. bertindak sebagai koordinator utama, sementara Bangkok Bank, Bank of China, E.Sun Commercial Bank, Maybank, RHB Bank, Societe Generale, Taishin International Bank, dan Natixis Singapore Branch turut sebagai pemberi pinjaman.
Corporate Secretary TOBA, Pingkan Ratna Melati, menyatakan bahwa pinjaman ini merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan struktur pembiayaan grup. Perusahaan berharap skema baru ini dapat menekan biaya pendanaan, memperpanjang tenor, dan memberi fleksibilitas lebih besar dalam mengelola kewajiban keuangan. "Keterlibatan banyak kreditur internasional menunjukkan kepercayaan terhadap portofolio bisnis berkelanjutan kami," ujarnya dalam keterangan resmi.
Kehadiran Societe Generale dan Natixis, dua bank asal Prancis, menjadi sorotan. Di pasar Asia, bank-bank Eropa tersebut dikenal aktif dalam pembiayaan bertema ESG, transisi energi, dan ekonomi sirkular. Partisipasi mereka mempertebal eksposur institusi keuangan Eropa dalam struktur pendanaan TOBA, sekaligus menjadi sinyal positif bagi investor yang mengincar proyek hijau di Indonesia.
Dana segar ini akan digunakan untuk melunasi fasilitas pinjaman sebelumnya yang dimiliki SBT Invest dan Taonga, serta membiayai modal kerja dan belanja modal SBT Invest dan anak perusahaannya. Langkah ini memperkuat posisi TOBA dalam melanjutkan agenda transformasi yang telah berjalan beberapa tahun terakhir. Perusahaan yang dulu dikenal sebagai emiten batu bara kini agresif menggeser portofolio ke bisnis pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik.
Hasil transformasi mulai terlihat pada kinerja keuangan. Pada kuartal I-2026, pendapatan TOBA naik 20,6% secara tahunan menjadi US$86,3 juta. Segmen pengelolaan limbah menjadi kontributor terbesar dengan US$52,0 juta atau 60,2% dari total pendapatan, sementara segmen kendaraan listrik menyumbang 3,7%. Adapun kontribusi batu bara tercatat 34,2%, menurun signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, pinjaman ini menjadi indikator bahwa perusahaan lokal mampu menarik pendanaan global untuk proyek transisi energi. Namun, tantangan tetap ada: TOBA harus membuktikan bahwa model bisnis barunya dapat menghasilkan arus kas yang stabil dan berkelanjutan, mengingat sebagian besar pendapatan masih bergantung pada batu bara. Apakah langkah agresif ini akan mendorong emiten lain untuk mengikuti jejak serupa, atau justru menimbulkan kekhawatiran akan risiko konsentrasi pendanaan?



