Harga Tanah di Jepang Melonjak 2,9%: Pariwisata dan Proyek Properti Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata harga tanah nasional Jepang naik 2,9% pada 2026, rekor tertinggi sejak metode penghitungan baru diterapkan.
- Tokyo memimpin kenaikan dengan 9,4%, disusul Okinawa dan Osaka, didorong pembangunan ulang dan lonjakan turis.
- Kenaikan harga tanah di kawasan ski seperti Hakuba dan Furano menandakan pergeseran investasi ke daerah wisata alam.

Harga tanah rata-rata di Jepang mencatat kenaikan 2,9% pada 2026, level tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Data dari Badan Pajak Nasional Jepang yang dirilis Rabu (1/7) menunjukkan bahwa lonjakan ini merupakan tahun kelima berturut-turut dan tercepat sejak metode penghitungan diubah pada 2010.
Kenaikan harga tanah ini tidak merata. Sebanyak 36 dari 47 prefektur mencatat kenaikan, dengan Tokyo memimpin di angka 9,4%, disusul Okinawa (6,6%) dan Osaka (5,1%). Sementara itu, delapan prefektur mengalami penurunan, termasuk Wakayama yang turun 0,5% serta Niigata dan Tokushima yang masing-masing turun 0,4%. Harga tanah ini menjadi acuan untuk penghitungan pajak warisan dan hadiah di Jepang.
Fenomena ini tidak lepas dari dua faktor utama: proyek pembangunan ulang di pusat kota dan lonjakan pariwisata pascapandemi. Di kawasan wisata, harga tanah di Asakusa, Tokyo, melonjak 27,5%, sementara di desa ski Hakuba (Nagano) melesat 32,7%—tertinggi di antara semua distrik pajak. Kota Furano di Hokkaido, yang dikenal dengan ladang lavender dan resor skinya, mencatat kenaikan 28,0%.
Di sisi lain, bencana alam meninggalkan jejak pada harga tanah. Kawasan Wajima di Prefektur Ishikawa, yang diguncang gempa besar pada 1 Januari 2024, mencatat penurunan harga tanah terdalam sebesar 8,6%. Sementara itu, zona "sulit kembali" di Prefektur Fukushima—akibat bencana nuklir 2011—kembali tidak dinilai karena sulitnya menghitung nilai tanah.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan gambaran tentang bagaimana pariwisata dan investasi properti dapat mendorong harga tanah secara signifikan. Jepang menunjukkan bahwa daerah dengan atraksi wisata alam seperti ski dan onsen mampu menarik investasi properti, mirip dengan potensi Bali, Lombok, atau kawasan Danau Toba. Namun, ketimpangan regional yang terlihat—dengan hanya delapan prefektur yang turun—mengingatkan bahwa pertumbuhan tidak selalu merata, dan kebijakan tata ruang perlu diantisipasi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kenaikan ini akan berkelanjutan atau justru memicu gelembung properti. Dengan suku bunga Jepang yang masih rendah dan pariwisata yang terus pulih, tekanan kenaikan harga tanah diperkirakan masih akan berlanjut, terutama di kawasan urban dan destinasi wisata utama.



