Karoseri Nasional Banting Setir ke Bus Tambang dan EV Saat Pasar AKAP Lesu
Baca dalam 60 detik
- Permintaan bus AKAP dan pariwisata turun drastis pada 2026 akibat gejolak politik global dan pelemahan rupiah.
- PT Laksana Bus Manufaktur merespons dengan efisiensi dan diversifikasi ke bus tambang (main hauler) serta kendaraan listrik.
- Langkah ini menjadi indikasi pergeseran strategi industri karoseri Indonesia dari pasar konvensional ke segmen niche dan hijau.

Industri karoseri nasional mulai menjauh dari ketergantungan pada bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan pariwisata. Di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian politik global, PT Laksana Bus Manufaktur justru mengalihkan fokus ke kendaraan pengangkut pekerja tambang serta bus listrik perkotaan. Langkah ini menjadi sinyal bahwa pelaku usaha tak lagi bisa mengandalkan pasar tradisional yang tengah tergerus.
Technical Director PT Laksana Bus Manufaktur, Stefan Arman, mengungkapkan bahwa 2024 menjadi puncak lonjakan permintaan jasa karoseri. Namun memasuki 2026, situasi berbalik 180 derajat. Konflik geopolitik di Timur Tengah memicu ketidakpastian rantai pasok dan investasi, yang pada akhirnya menekan permintaan bus AKAP dan pariwisata. Ditambah lagi, pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat biaya impor bahan baku seperti baja dan komponen elektronik melambung, sementara daya beli konsumen justru melemah.
โPerusahaan tidak bisa serta-merta menaikkan harga modifikasi bodi karena pasar tidak mampu. Efisiensi menjadi kunci,โ ujar Stefan dalam wawancara dengan CNBC Indonesia. Ia menambahkan bahwa tekanan biaya ini memaksa karoseri untuk mencari ceruk baru yang lebih stabil dan memiliki prospek jangka panjang.
Diversifikasi menjadi strategi utama Laksana. Selain tetap melayani bus AKAP, pariwisata, dan instansi pemerintah, perusahaan kini mulai merambah segmen kendaraan pengangkut pekerja tambang atau main hauler. Pasar ini dinilai lebih prospektif karena didorong oleh aktivitas pertambangan yang relatif tidak terpengaruh gejolak politik. Tak hanya itu, Laksana juga bersiap memasuki pasar bus listrik perkotaan yang sejalan dengan program elektrifikasi transportasi umum pemerintah.
Langkah Laksana mencerminkan tren yang lebih luas di industri karoseri Indonesia. Beberapa pemain lain diperkirakan akan mengikuti jejak serupa, mengingat pasar bus konvensional semakin sempit. Namun, transisi ke segmen tambang dan EV bukan tanpa tantangan. Investasi teknologi, sertifikasi, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi prasyarat yang membutuhkan modal tidak sedikit.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah industri karoseri nasional mampu bertahan di tengah tekanan biaya dan pergeseran permintaan. Atau justru diversifikasi ini menjadi momentum untuk memperkuat daya saing di pasar global? Jawabannya akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam mendorong industri komponen dalam negeri dan adopsi kendaraan listrik.



