Kisah Taylor Sheridan: Meninggalkan 'Sons of Anarchy' karena Gaji Tak Layak, Kini Sukses dengan 'Yellowstone'
Baca dalam 60 detik
- Taylor Sheridan hengkang dari serial 'Sons of Anarchy' setelah tuntutan kenaikan gaji sebesar $20.000 per episode ditolak mentah-mentah oleh pihak produksi.
- Keputusan itu justru menjadi titik balik kariernya: ia beralih total ke penulisan skenario dan melahirkan mega-hit 'Yellowstone' serta sejumlah spin-off-nya.
- Kasus ini menyoroti kesenjangan nilai antara aktor pendukung dan kreator konten di industri hiburan, relevan dengan perjuangan pekerja kreatif di Indonesia.

Keputusan Taylor Sheridan meninggalkan serial populer Sons of Anarchy pada puncak kesuksesannya bukanlah karena konflik kreatif, melainkan persoalan klasik: uang. Aktor berusia 56 tahun itu mengaku merasa tidak dihargai secara finansial meski telah menjadi bagian penting dari salah satu tayangan kabel paling sukses di Amerika Serikat pada masanya.
Dalam wawancara terbaru di The Howard Stern Show, Sheridan mengungkapkan bahwa setelah musim kedua Sons of Anarchy berakhir, ia meminta kenaikan bayaran menjadi $20.000 per episode—angka yang sama dengan yang diterima pemain reguler pendukung lainnya. Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah. Pihak produksi hanya bersedia menawarkan $15.000 per episode dengan jaminan 10 episode, yang menurut Sheridan bukanlah kenaikan berarti.
“Mereka bilang tidak bisa memenuhinya. Ini bukan jumlah yang selangit, apalagi di Los Angeles,” kenang Sheridan. “Pengacara saya bahkan bilang ke bagian bisnis, ‘Saya punya anak-anak yang bikin acara masak di YouTube saja penghasilannya lebih dari itu.’ Jawabannya? ‘Kalau begitu suruh dia bikin acara masak di YouTube. Kami tidak perlu membayarnya karena masih ada 50 orang lain yang bisa menggantikannya besok.’”
Kekecewaan itu menjadi titik balik. Sheridan memutuskan untuk meninggalkan dunia akting dan fokus pada penulisan skenario—keputusan yang kini terbukti sangat tepat. Ia menciptakan Yellowstone, drama keluarga koboi yang meledak dan melahirkan beberapa spin-off seperti 1883 dan 1923. Kesuksesan itu menjadikannya salah satu kreator konten paling berkuasa di Hollywood saat ini.
“Saya sadar sudah mencapai batas kemampuan saya sebagai aktor di industri ini. Jadi saya berhenti mencoba. Orang-orang yang punya kekuasaan adalah mereka yang bercerita, maka saya akan bercerita sendiri,” ujar Sheridan, yang juga dikenal sebagai penulis naskah film Sicario dan Hell or High Water.
Kisah Sheridan relevan untuk disimak di Indonesia, di mana pekerja industri kreatif—aktor, penulis, kru produksi—sering menghadapi ketimpangan upah dan minimnya jaminan kesejahteraan. Banyak talenta lokal yang memilih banting setir atau bahkan meninggalkan industri karena imbalan yang tidak sebanding dengan kontribusi mereka. Kasus ini mengingatkan bahwa nilai seorang kreator tidak selalu diukur dari popularitas sesaat, melainkan dari keberanian mengambil risiko untuk mengejar visi sendiri.
Pertanyaan yang mengemuka: apakah ekosistem hiburan Indonesia sudah cukup memberikan ruang bagi para pekerja kreatif untuk tumbuh tanpa harus memilih antara bertahan dengan bayaran minim atau meninggalkan profesi yang mereka cintai? Atau, seperti Sheridan, mereka harus menciptakan panggung sendiri?



