IHSG Terjun Bebas, Lima Saham Ini Justru Berpotensi Cuan Pekan Ini
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 3,05% ke 5.643,19 pada Selasa (30/6), dipicu aksi jual asing dan sentimen negatif dari Fitch Ratings.
- Di tengah tekanan, saham MTEL, CPIN, dan UNTR menjadi penopang, sementara rekomendasi teknikal menyoroti lima saham dengan potensi kenaikan jangka pendek.
- Pelaku pasar mencermati aksi korporasi seperti rights issue ELPI dan dividen ICBP, yang bisa menjadi katalis pergerakan saham ke depan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 3,05% ke level 5.643,19 pada perdagangan Selasa (30/6), mencatat koreksi terdalam dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan jual asing dan kekhawatiran terhadap suku bunga tinggi serta pelemahan rupiah menjadi biang kerok utama. Meski demikian, sejumlah saham justru menunjukkan sinyal penguatan dan masuk dalam radar rekomendasi analis untuk perdagangan pekan ini.
Sepanjang sesi, investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,21 triliun di pasar reguler dan Rp1,04 triliun di seluruh pasar. Seluruh sektor industri terpantau di zona merah, dengan sektor basic industry menjadi yang paling terpuruk, turun hingga 5,54%. Pelemahan saham BBCA, BBRI, dan MORA menjadi pemberat utama indeks. Sementara itu, saham CPIN, MTEL, dan UNTR justru berhasil menguat dan menjadi penopang pergerakan IHSG.
Dari sisi eksternal, bursa Amerika Serikat bergerak positif dengan Dow Jones naik 0,26%, S&P 500 menguat 0,79%, dan Nasdaq bertambah 1,52%. Sentimen ini belum cukup kuat mendorong pasar domestik yang masih dibayangi laporan Fitch Ratings. Lembaga pemeringkat itu menyoroti risiko suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian regulasi yang dapat menekan kinerja korporasi. Indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing turun 2,92% dan 3,76%, mencerminkan tekanan pada aset berbasis rupiah.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah emiten justru mengumumkan aksi korporasi yang menarik perhatian. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) mengalokasikan belanja modal Rp2,9 triliun sepanjang 2026 untuk ekspansi organik. Perseroan menargetkan penambahan 2.500 tenant baru dan pembangunan 9.000 kilometer billable fiber optic. Selain itu, MTEL bersiap memasuki bisnis Fixed Wireless Access (FWA) dengan memanfaatkan 40.327 menara telekomunikasi, di mana 59% berada di luar Jawa, untuk mendukung program Internet Rakyat (IRA) berbasis spektrum 1,4 GHz. Rencana pelepasan spektrum 700 MHz dan 2.500 MHz dinilai membuka peluang baru bagi perseroan. Saham MTEL ditutup menguat dan berada di atas rata-rata pergerakan 21 hari (EMA21), menandakan momentum positif.
Sementara itu, PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk. (ELPI) akan melaksanakan rights issue dengan menerbitkan maksimal 2,11 miliar saham baru, setara 22,18% dari modal ditempatkan. Harga pelaksanaan Rp350 per saham, sehingga potensi dana yang dihimpun mencapai Rp739,35 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk pengadaan offshore support vessel (Rp277,20 miliar), penyertaan modal joint venture (Rp190 miliar), dan tambahan modal anak usaha. Pemegang saham pengendali Kreasi Cipta Timur (KCT) yang menguasai 82,36% saham tidak akan menggunakan haknya dan mengalihkan seluruh HMETD kepada GMT Kapital Asia. Pemegang saham yang tidak ikut serta berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 22,18%.
Dari sisi dividen, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) menetapkan dividen tunai final tahun buku 2025 sebesar Rp265 per saham, total sekitar Rp3,09 triliun. Nilai tersebut setara 33,5% dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Pemegang saham pengendali INDF akan menerima sekitar Rp2,49 triliun, sementara publik memperoleh Rp601,61 miliar. Dengan harga penutupan Rp6.800, dividend yield tercatat sekitar 3,9%. Cum date dividen dijadwalkan pada 6 Juli 2026, dan pembayaran pada 28 Juli 2026.
Analis teknikal memberikan rekomendasi untuk lima saham yang dinilai memiliki potensi kenaikan dalam jangka pendek. Berikut adalah level support, resistance, dan stop loss yang disarankan:
| Saham | Beli (Rp) | Target Harga (Rp) | Stop Loss (Rp) |
|---|---|---|---|
| SGER | 366-370 | 376-386 | 348 |
| SRTG | 1.570-1.580 | 1.600-1.630 | 1.495 |
| UNTR | 22.800-22.900 | 23.150-23.300 | 21.875 |
| CPIN | 3.360-3.380 | 3.440-3.500 | 3.210 |
| MTEL | 525-535 | 545-555 | 498 |
Bagi investor di Indonesia, kondisi pasar saat ini menuntut selektivitas tinggi. Aksi jual asing dan tekanan makro masih membayangi, namun aksi korporasi seperti ekspansi MTEL, rights issue ELPI, dan dividen ICBP bisa menjadi katalis individual. Pertanyaan besarnya, akankah sentimen positif dari bursa AS dan program Internet Rakyat mampu mengangkat IHSG kembali ke level psikologis 6.000? Atau justru tekanan regulasi dan nilai tukar akan semakin memperdalam koreksi? Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan rupiah dan kebijakan Bank Indonesia pekan depan.



