Rebecca Black: 'Showgirl-ism' dan Misi Menciptakan Pop yang Tak Terdengar
Baca dalam 60 detik
- Rebecca Black mengaku terinspirasi oleh konsep 'showgirl-ism' dari video klip Lady Marmalade dan Rock DJ milik Robbie Williams.
- Penyanyi yang melejit lewat 'Friday' ini ingin menciptakan pop unik yang belum ada di industri, terinspirasi Skrillex dan Daft Punk.
- Album terbarunya 'SALVATION' (2025) lahir dari kecintaannya pada dance music dan pendekatan minimalis yang berbeda.

Rebecca Black, penyanyi yang namanya melambung pada 2011 berkat single kontroversial 'Friday', kembali mencuri perhatian dengan pandangannya tentang industri pop. Dalam wawancara terbaru, ia mengaku bahwa estetika 'showgirl-ism'—perayaan feminitas yang glamor dan percaya diri—menjadi salah satu inspirasi utamanya. Namun, di balik pengaruh itu, Black memiliki misi lebih besar: menciptakan jenis pop yang belum pernah didengar orang lain.
Bagi Black, 'showgirl-ism' bukan sekadar tren. Ia mencontohkan video klip 'Lady Marmalade' yang dibawakan Christina Aguilera, Lil' Kim, Mya, dan Pink sebagai representasi sempurna dari konsep tersebut. "Empat raksasa dari berbagai sisi industri pop berkolaborasi, masing-masing mempertahankan ciri khas mereka. Saya sudah menonton video itu berkali-kali," ujarnya kepada Bustle. Menurut Black, semangat serupa juga terlihat dalam karya Taylor Swift, namun baginya 'showgirl-ism' lebih dari sekadar panggung—ia adalah perayaan kolektif atas keindahan feminitas.
Tak hanya itu, Black juga mengidolakan Robbie Williams, terutama video klip 'Rock DJ' yang ia anggap sebagai salah satu video terbaik sepanjang masa. "Lagu itu begitu energik, anthemik, dan juga tidak masuk akal—itulah jenis pop favorit saya. Videonya sangat mengejutkan, di mana dia menanggalkan semua lapisan hingga ke versi paling autentik dari dirinya," kata Black. Ia bahkan sering menunjukkan video tersebut kepada orang lain sebagai referensi.
Di balik kekagumannya pada para pendahulu, Black memiliki ambisi untuk keluar dari pakem pop mainstream. Dalam wawancara dengan DIY magazine, ia mengungkapkan bahwa album terbarunya, 'SALVATION' yang dirilis 2025, lahir dari kecintaannya pada dance music. "Saya penggemar berat Skrillex dan Daft Punk. Pengaruh mereka memulai kelahiran 'SALVATION' dan memengaruhi cara saya mendekati keheningan, suara, dan minimalisme," jelasnya. Namun, yang terpenting baginya adalah menciptakan pop yang tidak sedang dilakukan orang lain, dengan caranya sendiri.
Bagi pendengar di Indonesia, pernyataan Black ini menarik karena menunjukkan bahwa industri pop global masih terbuka bagi mereka yang berani berbeda. Di tengah dominasi K-pop dan musik barat yang seragam, pendekatan Black yang menggabungkan dance, minimalisme, dan elemen teatrikal bisa menjadi angin segar. Apalagi, penggemar musik elektronik di Tanah Air cukup besar, sehingga album 'SALVATION' berpotensi mendapat sambutan hangat.
Namun, tantangan tetap ada. Black harus membuktikan bahwa ia bisa lepas dari bayang-bayang 'Friday' dan diterima sebagai musisi serius. Dengan pengaruh dari artis seperti Skrillex dan Daft Punk, ia tampaknya berada di jalur yang tepat. Pertanyaannya, akankah pendekatan 'showgirl-ism' dan minimalisme yang ia usung cukup kuat untuk menggaet pendengar baru, atau justru membuatnya semakin terpinggirkan di industri yang terus berubah?



